Berhati-hatilah saat kau merasa Rindu

puisi-rindu-buat-kekasih-yang-jauh

Pernahkan engkau merasakan merindukan sesuatu yang dulu engkau kutuki. Pernahkah kau merindu sesuatu yang dulu kau sesali, pernahkah engkau merasa ada yang kurang didalam hidupmu, dan kau merindukan sesuatu, sesuatu yang entah apa itu. Sesuatu yang masih abu-abu, tak kasat mata, namun hati merindukannya. Saya harap semua orang pernah merasakannya, agar tidak cuman saya yang mengalami hal tersebut.

Kubuka buku La Tahzan, karena logikaku tak mampu menghilangkan kerinduan hati ini. Dan sampai pada sebuah sub bab “Hati-hati dengan Rindu”, sungguh pas dengan apa yang ingin ku ketahui. Saya tak pernah menyelesaikan buku La Tahzan, karena setiap membacanya sedikit, saya menemukan jawaban yang membuat hatiku bersedih (lebay banget) hhh. Dan saat membukanya kembali, bim salabim, saaya menemukan apa yang harus kubaca.

Dalam buku itu tertulis (dalam bahasa Indonesia), Jangan pernah merindukan sesuatu secara berlebihan. Karena, yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam.  Seorang muslim akan bahagia ketika ia dapat mengatasi keluhan, kesedihan, dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mengatasi keterasingan, keterputusan, dan keterpisahan yang dikeluhkan para penyair. Betapapun yang demikian itu adalah tanda kehampaan hati. Baca lebih lanjut

Iklan

10 Ciri-Ciri Teman Iblis di Neraka

Dalam riwayat Imam Bukhari, diceritakan, suatu saat ketika sedang duduk, Rasulullah saw didatangi seseorang. Rasul bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Ia pun menjawab: “Saya Iblis.”

Rasul bertanya lagi, apa maksud kedatangannya. Iblis menceritakan kedatangannya atas izin Allah untuk menjawab semua pertanyaan dari Rasulullah saw. Kesempatan itu pun digunakan Rasulullah saw untuk menanyakan beberapa hal. Salah satunya mengenai teman-teman Iblis dari umat Muhammad saw yang akan menemaninya di neraka nanti? Iblis menjawab, temannya di neraka nanti ada 10 kelompok.

  • Yang pertama, kata Iblis, haakimun zaa`ir (hakim yang curang). Maksudnya adalah seorang hakim yang berlaku tidak adil dalam menetapkan hukum. Ia menetapkan tidak semestinya. Tak hanya hakim, dalam hal ini bisa juga para penegak hukum secara umum, seperti polisi, jaksa, pengacara, dan juga setiap individu, karena mereka menjadi hakim dalam keluarganya.
  • Yang kedua, kata Iblis, ghaniyyun mutakabbir (orang kaya yang sombong). Ia begitu bangga dengan kekayaan dan enggan mendermakan untuk masyarakat yang membutuhkan. Dia menganggap, semua yang diperolehnya merupakan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Contohnya seperti Qarun. Baca lebih lanjut

Shahih Bukhari – Islam yang paling utama

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺳَﻌِﻴﺪُ ﺑْﻦُ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦِ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﻘُﺮَﺷِﻲُّ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑِﻲ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺑُﺮْﺩَﺓَ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺑُﺮْﺩَﺓَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺑُﺮْﺩَﺓَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ
ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻱُّ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ
(10) Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al Qurasyi dia berkata, Telah menceritakan kepada kami bapakku berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin Abdullah bin Abu Burdah dari Abu Burdah dari Abu Musa berkata: ‘Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Siapa yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya”.

Kisah Cinta Sejati, Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah Az-Zahra

Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya. Baca lebih lanjut

Ibadah tersembunyi yang dicintai oleh Allah SWT

Kita pasti sering mendengar perkataan, tangan kanan berbuat tangan kiri tidak tahu. Yang bisa diartikan sebagai, kita melakukan perbuatan baik tanpa ingin diketahui oleh orang lain, bahkan diri kita tidak ingin mengingat-ingatnya lagi–Ikhlas. Atau bisa dibilang, ibadah yang tersembunyi.

Banyak sekali ibadah-ibadah yang bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Diantaranya adalah:

  • Shalat malam (sunnah)

Membiasakan shalat malam meskipun hanya satu rakaat witir setiap malamnya. Lakukanlah langsung setelah Isya,atau sebelum tidur, atau sebelum fajar supaya dicatat disisi Allah sebagai bagian dari bangun malam. Karena pada malam hari, sedikit orang yang tahu dan Allah mencintai orang yang beribadah dimalam hari, sedangkan yang lain sedang lelap tertidur.

Rasulullah saw bersabda,” Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai yang ganjil. Karena itu lakukanlah shalat ganjil (witir) Wahai yang membaca AL Qur’an.

  • Mendamaikan perselisihan/perseteruan

berusaha mendamaikan dua orang yang berseteru, baik kawan, tetangga maupun suami istri. Rasulullah Saw bersabda,” Maukah kalian kuberi tahu amalan yang pahalanya lebih baik dari pada shalat, puasa dan sedekah?”

“Mau ya Rasulullah,”  Jawab para sahabat.

Rasulullah melanjutkan,”Yaitu mendamaikan dua orang yang berseteru. Adapun merusak dua orang   yang berseteru adalah ‘pencukur’ (pahala). Baca lebih lanjut

Agar Tidak Menjadi Debu

Sesungguhnya kemuliaan diri tidak terletak pada kesombongan dan tidaklah sama dengan kehinaan. Kemuliaan adalah cahaya dan terletak di kutub yang lain, sedangkan kehinaan adalah kegelapan dan terletak di kutub yang lainnya lagi.

Menghindari kesombongan bukan berarti rendah diri. Karena rendah diri kepada sesama manusia adalah kehinaan. Menghindari kesombongan adalah rendah hati, beribadah hanya karena-Nya dan mau menerima kebenaran dari mana pun datangnya.

Tidak ada orang yang menghindari kesombongan kemudian menjadi hina. Sekalipun orang itu tidak dikenal di masanya, tetapi karena akhlaknya yang mulia dan beramal dengan ikhlas, Allah mematri namanya di hati dan pikiran generasi selanjutnya. Tidak terasa ratusan tahun kemudian namanya banyak disebut orang, nasihat-nasihatnya didengar dan diamalkan, akhlaknya menjadi contoh teladan. Inilah makna firman Allah, “Dan kesudahan yang baik bagi orang-orang bertakwa.” (QS al-Qashash [28]: 83). Baca lebih lanjut

Sebagaimana Keadaan Kalian Maka Seperti Itulah Pemimpin Kalian !

siapa yang menggerakkan pemimpin, kita. Kalau kita baik, maka pemimpinpun akan baik. InsyaAllah

Judul diatas merupakan riwayat Nabi Muhammad SAW di dalam kitab Minhaj al-Sunnah, karangan Ibnu Taimiyyah. Riwayat diatas menunjukan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada pemimpin kita, entah itu pemimpin kita baik, buruk, jujur, tidak jujur, amanah, khianat, dan lain sebagainya. Itu dikarenakan oleh diri kita sendiri yang memang keadaannya sama dengan pemimpin kita (yang tadi saya sebutkan).

Kita sering bertanya-tanya, kenapa pemimpin kita tidak amanah (khianat) kepada janji-janji yang mereka katakan. kenapa pemimpin kita mengkorupsi uang rakyatnya sendiri. dan pertanyaan sejenis lainnya, tapi pernahkah kita menanyakan sendiri kepada diri kita, amanahkah kita kepada janji-janji yang kita ucapkan, korupsikah kita kepada uang yang telah diberikan oleh (misalnya orangtua). Saya pikir, jawabannya kurang lebih sama dengan yang terjadi pada saat ini, tentu tidak semuanya dipukul rata–salah. Masih banyak pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah dan sebagainya, dan itu menunjukan bahwa kitapun masih banyak yang berperilaku jujur, amanah dan sebagainya. Baca lebih lanjut