Politisi Itu Adalah – W. S Rendra

 

Para politisi berpakaian rapi.

Mereka turun dari mobil

langsung tersenyum

atau melambaikan tangan.

Di muka kamera televisi

mereka mengatakan

bahwa pada umumnya keadaan baik,

kecuali adanya unsur-unsur gelap

yang direkayasa oleh lawan mereka.

Dan mereka juga mengatakan

bahwa mereka akan memimpin bangsa

ke arah persatuan dan kemajuan.

“Kuman di seberang lautan tampak.

Gajah di pelupuk mata tak tampak.”

Itu kata rakyat jelata.

Tapi para politisi berkata:

“Kuman di seberang lautan harus tampak,

Gajah di pelupuk mata ditembak saja,

sebab ia mengganggu pemandangan.”

Ada orang memakai topi.

Ada orang memakai peci.

Ada yang memakai dasi.

Ada pula yang berbedak dan bergincu.

Kalau sedang berkaca

menikmati diri sendiri

para politisi suka memakai semuanya itu. Lanjutkan membaca “Politisi Itu Adalah – W. S Rendra”

Resensi Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Film Drama yang Melucu dan Membosankan

Poster Film

Pertama kali diajak untuk menonton film ini oleh teman saya untuk mengisi akhir pekan di bulan terakhir tahun 2013 ini di salah sartu bioskop di Jogja. Sebenarnya saya tidak terlalu suka untuk membuang-buang waktu saya di bioskop dengan menonton film Indonesia, apalagi di sana ada tontonan yang lebih bagus The Hobbit dan juga The Hunger Game 2. Karena diajak oleh teman saya, mau tidak mau harus ikut apa yang mereka tonton.

Sebenarnya ini film menarik, saat melihat bahwa film ini diadaptasi dari Novel dengan judul yang sama karangan dari Hamka. Sudah tidak dipertanyakan lagi kualitasnya, walaupun saya sendiri belum membaca novel aslinya. Mungkin sudah menjadi tren dimana film2 di Indonesia semuanya diangkat dari novel2 yang laris dipasaran, sehingga tidak heran apabila filmnya hanya mengejar profit dengan menumpang nama dari buku yang sudah duluan terkenal. Bagus memang, dan itu juga diharapkan oleh pecinta buku, yang ingin melihat cerita itu bisa ditampilkan dilayar lebar. Tapi sayangnya kita sering menyesal dengan kualitas film yang disajikan tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan pembaca. Film yang disajikan tidak sesuai dengan buku aslinya, banyak elemen-elemen penting yang dihilangkan, entah karena apa. Tentu sudah menjadi perhitungan oleh produser film tersebut. Lanjutkan membaca “Resensi Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Film Drama yang Melucu dan Membosankan”

Malam Tahun Baru 2013/2014 Di Yogyakarta

Menunggu detik-detik tahun baru...
Menunggu detik-detik tahun baru…

Malam Tahun baru kali ini saya tidak menghabiskan hanya di kos dengan menonton TV, lalu tidur lebih awal. Dan bangun pagi di Tahun yang baru. Malam ini, saya hunting foto kembang api, itu juga siapa tau bisa untuk menjadi foto berita di LPM saya. Sebenarnya saya ingin hunting di kawasan Malioboro dan sampai pagi disana dan memotret pagi dijogja, saat awal tahun, pasti banyak sampah berserakan sehabis Malam Tahun Baru, dan itu bisa dijadikan sebuah foto essay. Tapi, dengan alasan lagi, badan saya sepertinya tidak mampu dan juga hujan pada waktu sore sampai jam 8an malam, membuatku berfikir dua kali untuk turun kejalan, dan menghadapi kemacetan luar biasa yang pastinya bikin stress.

_DSC0497
meriahnya orang-orang gila ini

Akhirnya saya putuskan, setelah mendapat e-mail bahwa di Taman Pelang/Lampion di Monjali akan diadakan pelepasan Lampion. Wuih, apakah bakalan seperti di perayaan Waisak di Borobudur ? Saya mengharapkan bisa mendapatkan foto yang lain dari pada yang lain. Bersama teman satu kosan saya, dan juga teman dari Semarang bersama pacarnya, kami berangkat ke Taman Lampion. Sebelumnya makan di restoran Thailand, bergaya sedikit Hedonis–walaupun setelahnya saya menyesali dengan harga yang mahal !, jam setengah 10 kami sudah berada di Taman Lampion. Dan pastinya dengan keramaian 10 kali dibandingkan dengan hari-hari biasa.

_DSC0515 Lanjutkan membaca “Malam Tahun Baru 2013/2014 Di Yogyakarta”

[curhat] Titik terbawah

Benar apabila kata banyak orang bahwa hidup itu seperti roda, kadang dibawah, kadang ditengah, dan kadang pula diatas. Saat ini, saya merasakan diri ini berasa di titik terbawah, untungnya tak terkena paku dan kempes, sehingga tetap dibawah. dengan menulis, semoga bisa segera memutar roda ini, kembali keatas, bolehlah kempes, dan diriku tetap berada diatas.

Magrib ini, saat menulis curhatan ini, hujan turun sedari sore, saya baru selesai shalat magrib dan sedikit membaca Qur’an. Suaraku masih serak, dan agak terbata-bata saat membaca ayat suci beserta isinya, karena sudah lama–sejak bulan puasa, saya baru kali ini membuka dan membaca-nya. surat Maryam, ayat pertama sampai 15, bercerita tentang Nabi Zakariya yang menginginkan seorang keturunan disaat tubuhnya sudah renta karena tua, dan istrinya mandul tak bisa mengandung. Do’anya di kabulkan oleh Allah SWT, Yahya nama anaknya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bagi Tuhan Yang Maha Pengasih ini.

Lanjutkan membaca “[curhat] Titik terbawah”

Malam Satu Suro di Cepuri Parangkusumo

_DSC8172
Cepuri Parangkusumo

Saat pertama memasuki pantai parangkusumo pada senin (04/10), kami disambut oleh perhelatan pertunjukan wayang orang yang didalangi oleh Ki Manteb Soedharsono di Pendopo Parangkusumo. Acara tersebut merupakan langkah dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul untuk meningkatkan jumlah pengunjung di tahun ini. Pengunjung yang datang dari berbagai daerah tersebut, membuat suasana di pantai parangkusumo sangar ramai, apalagi terdapat pasar malam disana.

Di sebelah timur dari pendopo parangkusumo, terdapat cepuri parangkusumo yang dulunya dijadikan petilasan panembahan senopati. Terletak 30 km dari kota yogyakarta, para juru kunci menyakini Pantai Parangkusumo sebagai pintu masuk ke istana laut selatan. Didalamnya banyak peziarah menaburkan kembang setaman dan serangkaian sesajen di Batu Cinta, yang dulunya dijadikan Panembahan senopati bertemu dengan ratu kidul dan membuat perjanjian. Alasan kenapa dinamakan batu cinta, karena pada saat itu ratu kidul jatuh cinta kepada senopati, dan akhirnya mengabulkan permintaan senopati untuk bisa memerintah mataram, sebagai balasannya Senopati dan seluruh keturunannya mau menjadi suami Ratu Kidul, Senopati akhirnya setuju dengan syarat perkawinan itu tidak menghasilkan anak. Lanjutkan membaca “Malam Satu Suro di Cepuri Parangkusumo”

Memulai Awal Baru

Awal baru

Ilmuwan jenius Thomas Alfa Edison pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya terpukul. Sebuah laboratorium miliknya terbakar pada tanggal 9 Desember tahun 1914. Pemadam kebakaran yang datang pada saat itu, tidak mampu memadamkan api hijau dari bahan-bahan kimia yang terbakar.

Bagi masyarakat, sahabat dan kerabat pasti tau akan pentingnya laboratorium tersebut bagi karir seorang Edison. Banyak sahabat dan kerabat Edison yang mengirimkan ucapan duka cita atas kejadian itu. Edison hanya membalas “Usiaku 67 tahun, tapi aku tidak terlalu tua untuk memulai awal baru.” Lanjutkan membaca “Memulai Awal Baru”