Perkembangan puisi di Indonesia – Awal Orde Baru

Rahasia Membutuhkan Kata

Kudeta dan Pembasmian Kudeta

Dalam esai berjudul “Angkatan 66: Bangkitnya Satu Generasi” pakar kritik sastra Indonesia, HB Jassin menuliskan:

“Kini dalam tahun 1966, di Indonesia telah terjadi sebuah peristiwa penting. Peristiwa yang melahirkan angkatan yang menyebut dirinya “Angkatan 66”. Ialah pendobrakan terhadap kebobrokan yang disebabkan oleh penyelewengan negara besar-besaran, penyelewengan yang membawa negara ke jurang kehancuran total. Sebagaimana Chairil Anwar berontak terhadap penjajahan Jepang dalam tahun 1943 dengan “aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang” kita pun sekarang menyaksikan satu ledakan pemberontakan dari penyair, pengarang, dan cendekiawan, yang telah sekian lama terjajah jiwanya oleh slogan-slogan yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Tokoh-tokohnya ada pula, tokoh-tokoh yang menjadi matang dalam pergolakan.”

Peristiwa yang disebut Jassin tersebut tentu saja adalah peristiwa pemberontakan PKI pada 30 September 1965. Pada malam itu, enam jendral TNI dibunuh oleh tentara pengawal Presiden, Cakrabirawa, di bawah kepemimpinan Letkol Untung. Pasukan itu juga menduduki stasiun radio dan pusat penerangan. Pada pagi hingga siang 1 Oktober, media massa menyiarkan penjelasan perkembangan terakhir. Lalu di hari yang sama, pembentukan “Dewan Revolusi Indonesia” diumumkan. Koran harian PKI, Harian Rakyat menggambarkan pergerakan itu sebagai aksi yang revolusioner dan patriotik, sambil mengisyaratkan bahwa apa yang terjadi adalah semata-mata persoalan internal dalam tubuh militer.

Dua jendral senior, Mayor Jendral Suharto dan Jendral Nasution, selamat dari pembantaian. Pagi 1 Oktober, mereka mengerahkan batalion militer Jakarta untuk mengambil alih stasiun radio dan kendali kota. Selama seminggu, terjadi beberapa kali bentrokan senjata di Jawa Tengah yang melibatkan organisasi pemuda komunis, Pemuda Rakyat. Pertikaian ini kemudian dihentikan oleh Tentara Para Komando yang juga dikirim oleh Suharto. Diakui atau tidak Partai Komunis Indonesia benar-benar terlibat dalam kudeta tersebut dengan dukungan yang terlihat pada rencana rahasia di koran mereka dan dengan terlihatnya keinginan besar para pemudanya untuk menyerang musuh lamanya, Tentara Indonesia. Sebagai reaksi atas pengkhianatan yang terang-terangan ini, pecahlah perang sipil dalam skala luas meliputi Sumatra, Jawa, dan Bali, ketika para pemuda Muslim mulai menyerang mereka yang dianggap sebagai anggota partai komunis, bahkan sering kali termasuk mereka yang hanya sebagai simpatisan. Perkiraan jumlah yang terbunuh sekitar 78.000 sampai satu juta orang.

Letkol Untung tidak melibatkan Soekarno pada “Dewan Revolusi”, tetapi sebagai “Presiden/Pemimpin Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS” ia juga memperlihatkan suatu perlawanan yang jelas terhadap rencana rahasia partai komunis. Inflasi terus meningkat tajam pada bulan-bulan berikutnya, yang diperparah dengan membubung tingginya harga minyak, bahan bakar, dan ongkos trasnportasi umum. Diawal bulan Januari, pelajar dan mahasiswa di Jakarta dan Bandung membentuk suatu persatuan aksi dan mencanangkan serangkaian demonstrasi besar-besaran menuntut pembubaran PKI, restrukturisasi kabinet, dan penurunan harga-harga bahan pokok. Selama masa demontrasi ini, sejumlah pelajar dan mahasiswa itu ditembak. Pada tanggal 11 Maret 1966, Soekarno akhirnya meminta Letjen. Suharto untuk “menjamin keamanan, menenangkan dan menstabilkan pemerintahan dan revolusi” berikut dengan “keselamatan diri dan kekuasaannya”. Tindakan ini praktis merupakan pertanda transisi kekuasaan dari satu tangan ke yang lain. Bernard Dahm menyimpulkan bahwa dengan itu gerakan mahasiswa telah melumpuhkan rezim Soekarno. Setelah bersidang selama satu minggu, MPRS mengukuhkan kedudukan Suharto sebagai presiden sementara semenjak tanggal 11 Maret 1967, dan secara resmi menjadi presiden kedua Indonesia pada tanggal 27 Maret 1968.

Angkatan 66

Tahun 1966 menandai berlalunya hegemoni generasi sastra angkatan 45, yang sebagian dari mereka memegang kedudukan penting di berbagai perkumpulan penulis yang terbentuk untuk menerapkan cita-cita Soekarno di bidang sastra. Karya-karya yang secara gampang diidentifikasikan sebagai apa yang sekaran dinamakan ekstrim kiri, juga dibasmi, tanpa memandang muatan karya-karya itu sesungguhnya. Peristiwa ini membuka sebuah ruang untuk penggantinya, yang dinamakan “Angkatan 66”, untuk muncul sebagai juara tanpa penantang di dunia sastra.

Dukungan para pelajar, mahasiswa, dan intelektual non-sosialis kepada Orde Baru terbukti pada antologi sastra yang disusun HB Jassin, Angkatan 66, Prosa dan Puisi, yang diterbitkan pertama kali pada 1968. Motto pada buku Jassin ini adalah “Sastra demi Keadilan dan Kebenaran,” yang jelas-jelas memperlihatkan tujuan politiknya. Buku ini secara mencolok menampilkan sejumlah besar karya yang digambarkan Jassin sebagai ‘sajak demontrasi’ atau ‘puisi protes,’ yakni puisi yang dibaca untuk mengobarkan semangat pelajar dan massa secara luas di sepanjang aksi demonstrasi rakyat pada awal tahun 1966. Buku ini merupakan kumpulan dari berbagai buku yang telah terbit seperti Tirani dan Benteng karya Taufik Ismail, Mereka Telah Bangkit karya Bur Rasuanto, Perlawanan karya Mansur Samin, Pembebasan karya Abdul Wahid Situmeang, dan Kebangkitan oleh mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Puisi protes Taufik Ismail merupakan ciri tipikal dari keseluruhan karya dalam kumpulan itu. Puisinya sederhana dan sangat didaktir sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh kalangan terpelajar, yang mendengar maupun membacanya keras-keras dalam suatu demonstrasi. Cara pengungkapannya sederhana dan berkaitan dengan peristiwa tertentu yang sedang terjadi dimasa itu, meliputi prosesi pemakaman Arif Rachman Hakim, Kampus Salemba Universitas Indonesia, tentara dan senjata mereka, dan perubahan langit di atas Jakarta (berwarna kelabu ketika suasana hati sedang sedih dan memanas apabila dalam suasana kemarahan).

Puisi-puisi itu masih berisi retorika tentang baik dan jahat, dalam hubungannya dengan hakikat kenegaraan. Clifford Geertz mencatat munculnya suatu kekuatan penting di Indonesia setelah tahun 1960-an berkaitan dengan doktrin tradisional Jawa “kemakmuran negara dilihat dari kebesaran ibu kotanya, besarnya ibu kota bergantung pada kecerdasan elitnya, kecerdasan elitnya bergantung pada garis-garis landasan spiritualnya“. Dengan mengklaim atau menyatakan bahwa situasi sekarang ini telah berbeda, bahwa dekadesi moral dan korupsi di kalangan elit adalah sebab utama penderitaan yang dialami rakyat, Taufiq berhasil menyerang kepemimpinan Soekarno dan pengikut-pengikutnya. Ia juga mengemukakan pemikirannya bahwa perjuangan mahasiswa adalah semata-mata diabdikan untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada “Kita adalah Pemilik Syah  Republik ini”, penderitaan rakyat dimunculkan untuk menegaskan kembali hak legitimasi mereka atas kepemilikan Republik yang telah dirampas dari mereka atas kepemilikan Republik yang telah dirampas dari mereka melalui serangkaian pembunuhan dan hipokrisi antek-antek pemimpinnya. Pemimpin besar yang tanpa ragu mendukung setiap tindak tirani. Kata ganti millik ‘kita’ pada judul puisi, menunjukkan keterlibatan lawan bicara diucapkan oleh mereka yang ditampilkan sebagai pemilik sah yang paling berhak atas Republik, dimulai dengan mahasiswa tetapi kemudian meliputi seluruh bangsa.

Kepercayaan metafisika tradisional kedua yang juga penting dalam puisi ini. Kepercayaan ini menegaskan bahwa setiap zaman memiliki karakteristiknya sendiri. Mereka yang mampu menyesuaikan diri pada karakteristik tersebut dan mengambil keuntungan dari setiap kesempatan yang diberikan akan berkembang, sedangkan yang tidak, akan tertinggal di belakang.

Pembingkaian waktu pada penjelasan sebagian puisi-puisi ini diperluas agar dapat mencakup signifikansinya dengan peristiwa sejarah yang lebih luas. Beberapa puisi dalam dua buku taufik ismail menegaskan bahwa demontrasi tahun 1966 adalah jalan yang tepat untuk melanjutkan perjuangan revolusi 1945 yang sejati–suatu tema yang sangat disukai Soekarno–dan mereka bertujuan mengembalikkan negara ke jalan semula, yaitu mengabdi pada “keadilan dan kebenaran.” Kadang-kadang pengulangan ini dilambangkan dengan orangtua dari satu generasi yang mengirim anak-anak mereka untuk berjuang dalam pergolakan baru untuk mengembalikan Indonesia kepada integritas yang sepenuhnya.

Sebagian puisi-puisinya dapat dipertanyakan: apakah puisi itu benar-benar membawa perubahan sosial yang sesungguhnya. Retorika lebih bersifat mengkambinghitamkan, “mencari cara untuk menggantikan mereka dengan pemimpin yang lebih baik (mereka yang berasal dari kelas menengah yang sedang bangkit itu sendiri), tetapi tidak memberikan masukan untuk menciptakan “faktor yang integral pada sistem itu sendiri.” Kenyataanya, bertentangan dengan klaim Jassin bahwa karya angkatan 66 itu berbeda, sejumlah penulis dan kritikus Indonesia dengan cepat menunjukkan bahwa puisi pada periode 1966 memiliki banyak persamaan dengan “kaum sosialis” terdahulu. Goenawan Mohammad menuliskan bahwa pertengahan pertama tahun 1966-an adalah:

Sebuah periode yang merefleksikan kekuatan realisme sosial, keterkaitannya maupun pertentangannya. Periode yang dimulai dengan penulisan puisi “perjuangan” oleh hampir setiap orang dan berakhir dengan versi konflik 1966. Baik pada fase ‘heroisme’, ‘takdir sosial’, ‘prinsip besar’, doa untuk tanah tumpah darah dan rakyat, maupun optimisme sejarah, telah mengumpulkan mereka pada satu cita-cita yang bersambut.

Serupa dengan itu, Subagio Sastrowardoyo mengemukakan pendapatnya tentang gaya penulisan yang menurutnya seperti menjadi paradoks, yaitu gaya dari penulis yang menurutnya seperti bertentangan paham tetapi menulis bait-bait dengan gaya serupa. Ia membandingkan karya dari penyair-penyair sayap kiri Klara Akustia dengan Taufiq Ismail. Puisi yang ditulis oleh kedua penyair itu penuh berisi keyakinan dan semangat; mengungkapkan hal-hal umum dengan fase-fase yang umum pada saat itu, serta slogan-slogan untuk mengekspresikan cita-cita politik yang dianutnya tetapi tidak menghasilkan “karya abadi” (penilaian akan abadi atau tidaknya suatu karya tergantung pada bagaimana seseroang menilai kemampuan pengungkapan sosial dalam penulisan. Tentu saja bahwa kehalusan pengungkapan dan penjelajahan perasaan pribadi tidak dihiraukan pada sebagian besar situasi ini. Pada sisi lain, jika seseorang ingin menggerakan orang banyak untuk melakukan aksi langsung, maka tidak dapat diragukan lagi bahwa hal itu sangat efektif).

Perintis Era Baru

Setelah dukungan mereka tidak lagi diperlukan oleh ABRI, mahasiswa dan kalangan intelektual terdorong untuk mundur dari pentas politik. Sebagian mendapatkan posisi di pemerintahan, perusahaan, atau pers. Lambat laun, mahasiswa generasi berikutnya merupakan salah satu sumber utama dari sekian gerakan perlawanan yang masih berlanjur untuk memberantas korupsi dan mencapai keadilan sosial sepanjang kekuasaaan Orde Baru hingga saat-saat terakhirnya(sumber utama lainnya adalah Islam). Model puisi terbatas yang selalu dikemukakan oleh Jassin berhenti antara 1967 dan 1968. Di luar motif “bencana perbedaan politik tahun 1966” mencuatlah apa yang oleh Goenawan Mohammad dinamakan “sebuah pandangan baru tentang kebebasan dan meluasnya eksperimen dalam prosa, puisi, dan teater.” Lebih lanjut, Goenawan mengatakan bahwa kita seakan-akan tengah menyaksikan gerakan awal perintisan era baru, seperti yang berkembang setelah era 1945. Penulis muncul sebagai pribadi-pribadi, bersyahadat pada aliran artistik yang tidak umum, dan memiliki kesadaran penuh (sebagian dari mereka adalah penulis baru) akan penemuan kembali elan kreativitas.

Sebagian penulis terkemuka dan memiliki pengaruh besar setelah 1967 adalah penulis-penulis baru; sementara yang lain adalah mereka yang telah menulis lebih dari satu dekade tetapi masih selalu dibayangi oleh generasi seniornya dari angkatan pada masa revolusi. Taufiq Ismail mungkin benar-benar dapat dikatakan sebagai penyair generasi yang lebih baru. Walaupun ia telah mulai menerbitkan karya di awal 1960-an, pusisi terdahulunya yang perlu dicatat adalah puisi pertama dalam antologi ini, “Bukit Biru, Bukit Kelu” ditulis tahun 1965. Dua puisi berikutnya ditulis tahun 1971–“Bagaimana Kalau” dan “Kembalikan Indonesia Padaku”–menunjukkan betapa ia terus mengembangkan penulisannya setelah 1966. Puisinya memperhalus dan memperdalam komitmen nasionalisme dan protes sosial yang ia tampilkan melalui penggunaan baris yang lebih panjang, kompleks, dan dengan cara menampilkan keterkaitan yang mengejutkan atas berbagai hal, serta humor yang pahit. Puisi pertama dari kedua puisi di atas memperlihatkan semacam kesadaran akan berbagai kontradiksi dan permasalahan Orde Baru. Puisi kedua merupakan tuntutan agar Indonesia dikembalikan kepada yang berhak. Sisi menarik puisi kedua ini adalah bahwa Taufik Ismail tidak secara jelas mengaambarkan siapa yang ditujunya, siapa yang ia inginkan menerima Indonesia kembali. Pada saat puisi itu ditulis, mereka yang membaca puisi ini mungkin akan berpikir bahwa puisi-puisi tersebut masih secara langsung ditujukan utnuk melawan kekuasaan Orde Lama yang telah memiskinkan negara mereka, atau mungkin  dalam arti yang lebih Republik. Akan tetapi, sampai saat ini saya menyusun buku ini, tidak satupun yang mengatakannya sebagai sebuah kritik terbuka pada pemerintahan Orde Baru.

Penulis-penulis lain, yang lebih tua, yang pernah muncul sebagai tokoh-tokoh terkemuka setelah 1960, serta memulai menulis pada awal 50-an dan secara sadar menjauh dari penulisan puisi di bawah tekanan Demokrasi Terpimpin. Ajib Rosidi, misalnya, telah mempublikasikan buku puisi pertamanya dalam bahasa Indonesia pada 1956 dan menyusul dua buku lagi pada 1959 dan 1960 sebelum kembali lagi pada penulisan dalam bahasa Sunda selama awal 60-an. Demikian pula dengan Subagio Sastrowardoyo dan Goenawan Mohammad yang pernah tinggal di luar negeri untuk melanjutkan studi; Subagio ke Yale University dan Goenawan ke College d’Eropa, Belgia. Sebagian penulis muda yang terus menulis telah dijebloskan ke dalam angan-angan sunyi yang disebabkan oleh kontroversi seputar “Manifesto Kebudayaan” non-sosialis 1963, yang dilarang Soekarno pada bulan Mei tahun berikutnya.

Tidak diragukan lagi, penulis matang yang paling berani adalah WS Rendra. Rendra telah menerbitkan buku puisi pertamanya berjudul Ballada Orang-orang Tercinta pada 1957 dan buku puisi cinta Empat Kumpulan Sajak pada 1961. Tetapi ia juga pernah tinggal di luar negeri, selama dua tahun mengikuti suatu studi di Akademi Drama dan Seni Amerika, New York, dari tahun 1964 sampai 1967. Ketika kembali ke Indonesia, pengaruhnya sangat luar biasa. Di bidang teater, selain mengadakan pementasan realis konvensional ia juga mementaskan drama tari, menggunakan sesedikit mungkin kata dengan tujuan memaksimalkan makna bunyi atau pemurnian bunyi, biasanya dikenal sebagai teater ‘bib-bob”. Dalam dunia puisi, Rendra menulis puisi sosial dan puisi personal. Puisi teatrikalnya yang panjang “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” ditampilkan di sini. Puisi tersebut menunjukkan bagaimana Rendra secara piawai mengadaptasikan konversi yang ada dengan satire kelas atas; Nafsu. ketidakjujuran, dan korupsi, serta harapan kelas pekerja dalam usahanya bertahan hidup di dunia yang tak bermoral.

Pada karya terdahulunya, baik Ajip Rosidi maupun Rendra, telah menegaskan untuk menolak kiblat Eropa dari angkatan 1945, dan menunjukkan minat serta perhatian yang besar pada lokalitas dan kedaerahan. Puisi pertama Rendra mengacu pada budaya Jawa Tengah dan sejak awal ditulis dalam skala yang lebih besar. Puisi Ajib Rosidi berkaitan dengan Jawa Barat yang lebih mudah dipahami. Tujuannya adalah seperti yang diisyaratkan dalam “Hanya dalam Puisi” yaitu lebih menyukai yang ” jelas dan pasti”. Dunia observasi Ajib Rosidi dalam puisi ini adalah membingkai kerja keras petani dari jendela kereta yang lewat. Sang petani dipandang sebagai tokoh yang kesepian, romantik; kulitnya yang coklat dileheri keringat, ditangkap dalam setting yang lebih luas, sawah dan pegunungan Jawa Barat yang sangat indah. Gambaran petani ini mungkin tidak dimaksudkan secara khusus untuk menampilkan heroisme, kecuali seperlunya saja. Selain itu, Ajib menempatkan manusia pekerja dalam konteks pancaran religiusitas Islam, yaitu kesetiaan pada takdir Tuhan dan sang petani dikontraskan dengan keangkuhan diri penyair. Manusia dilahirkan untuk bekerja keras dan menderita. Tetapi, manusia dalam puisi tersebut berusaha untuk melewati setiap hari dengan bekerja untuk membangun suatu dunia lain. Dalam usaha untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, untuk mengetuk setiap pintu. Ajib menyarankan bahwa penulis pada akhirnya harus menundukkan diri di hadapan puisi alam semesta yang tercipta dan kepasrahan sederhana seorang petani.

Kepasrahan religius dalam puisi tersebut juga menjadi perwatakan dua puisi berikutnya yang ditampilkan di sini. Keduanya ditulis dengan karakteristik gaya tradisional Melayu berirama dalam empat baris. Dalam puisi ini, tidak diragukan lagi bahwa “kau” ditunjukan kepada Allah, Tuhan, dan bahwa keadaan yang dicari dalam puisi itu adalah suatu keberadaan dan kesatuan dengan cinta dan keabadian Tuhan. Kembali kepada kesalehan sederhana yang menjadi watak kepercayaan dari masyarakat daerah; ciri ini bukan sifat yang menonjol dalam puisi Indonesia Angkatan 45 yang sangat sekuler dan modern.


TAUFIQ ISMAIL

=

Bukit Biru, Bukit Kelu

Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahay dan di mana bertemu
Awan putih yang menghinggapi cemaraku

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
Ketika kota tak bicara dan terpaku
Gunung api dan hama di ladang-ladangku

Lereng-lereng senja
Pernah menyinar merah kesumba
Padang hilalang dan bukit membatu
Tanah airku

1965

=

Kita adalah Pemilik Syah Republik Ini

Tidak ada pilihan lain.Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran:

“Duli Tuanku?”

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus Berjalan terus.

1966

=

Bagaimana Kalau

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, salju turun di Gunung Sahari,
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia dibayar dengan pementasan Rendra,
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan margasatwa Afrika,
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil mempertimbangkan protes itu,
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

1971

=

Kembalikan Indonesia Padaku

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola  yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan Indonesia  padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan Indonesia padaku  

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan  Indonesia padaku  

Paris, 1971

=


W.S. Rendra

=

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

Pelacur-pelacur Kota Jakarta

Dari kelas tinggi dan kelas rendah
diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan

Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya

Kalian adalah sebahagian kaum penganggur

yang mereka ciptakan

Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah.

bahkan seks mereka perpolitikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka

Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta

Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

1967

=


AJIB ROSIDI

=

Hanya Dalam Puisi

Dalam kereta api
Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky
Namun kata-katamu kudengar
Mengatasi derak-derik deresi.
Kulempar pandang ke luar:
Sawah-sawah dan gunung-gunung
Lalu sajak-sajak tumbuh
Dari setiap bulir peluh
Para petani yang terbungkuk sejak pagi
Melalui hari-hari keras dan sunyi.

Kutahu kau pun tahu:
Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi
Adam terlempar dari surga
Lalu kian kemari mencari Hawa.

Tidakkah telah menjadi takdir penyair
Mengetuk pintu demi pintu
Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati
Yang tak mau
Menyerah pada situasi?

Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.
Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.

Dalam kereta api
Kubaca puisi: turihan-turihan hati
Yang dengan jari-jari besi sang Waktu
Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur
Ke ruang mimpi yang kuatur
sia-sia.

Aku tahu.
Kau pun tahu. Dalam puisi
Semuanya jelas dan pasti.

1968

=


Ini adalah salah satu isi buku karya Harry Aveling yang berjudul “Rahasia Membutuhkan Kata – Puisi Indonesia 1966-1988” (Secrets Need Words). Buku yang bagus, untuk bisa membaca lebih lengkap, tentu harus membaca langsung bukunya. hehehe Perkembangan puisi pada tahun 66 (awal Orde Baru) menurut saya paling menarik, sebagai pintu untuk masuk ke buku ini. Semoga ulasan sedikit dari buku itu bisa bermanfaat buat teman-teman.🙂

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on April 3, 2014, in Buku, Dunia, Puisi, Writing and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. I am genuinely thankful to the holder of this site who has shared this wonderful article at at this time.

  2. My family members all the time say that I am killing
    my time here at net, however I know I am getting
    know-how every day by reading thes nice content.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: