Tahap-tahap untuk menulis Novel atau Cerpen [FIKSI]

Mist over countryside in Southwest England.

Karena seringnya membaca buku, dan bisa dibilang sebagai hobi yang semakin mengasyikan–menggeser hobi fotografi. Muncul keinginan dalam hati untuk membuat sebuah novel fiksi. Dan, ya semoga keinginan ini bisa terwujud. hehehe walaupun belum proses ‘penggarapan’, hanya baru membaca novel lebih intens dari biasanya.

Sekalian berbagi ilmu dengan teman-teman, saya akan menulis tahap-tahap menulis novel atau cerpen disini.😀

Beberapa tips yang bisa dipraktekan saat menulis novel atau cerpen.:

  1. Tema
    Sebelum menulis, kita tentukan dulu tema yang akan kita ambil. Degan sudah ditentukkannya suatu tema cerita, bisa membantu kita untuk menghubungkan antara setting dan plot satu dengan yang lainnya setiap kali kita bercerita/berkisah. Maka akan menghubungkan kisah awal dan akhir cerita, dengan tetap mengikuti garis batas tema yang sudah kita miliki. Tentukan juga inti cerita kita. Walaupun kita ingin memperluas tema, kita harus tetap berfokus pada inti yang sudah kita buat.
  2. Tempo
    Dalam penulisan sebuah novel atau cerpen, kita harus mampu menjalin kisah menjadi sebuah cerita yang aktif serta mampu mengundang rasa penasaran pembaca untuk membacanya. Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya memiliki tempo yang pendek, sedangkan novel cukup panjang. Tujuan penggambaran tempo adalah utnuk menjalin suatu kejadian dalam kehidupan karakter utama, yaitu berupa gambaran akan kejadian sehari-hari.
  3. Setting
    Keterbatasan penyampaian kata-kata dalam novel atau cerpen–mengharuskan kita untuk secara efektid menggunakan bahasa serta memilih setting cerita yang pas, yang bisa menggambarkan tempat kejadian secara tepat sehingga mampu mendukung jalannya cerita. Buatlah setting tempat semenarik mungkin agar pembaca seolah merasakan suasana yang sesungguhnya ingin kita ungkapkan.
  4. Penokohan
    Untuk menjaga efektifitas cerita, sebuah cerpen sedikitnya harus memiliki tiga tokoh utama. Terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalannya cerita. Jangan sampai kita terjebak dalam penokohan. Jika bisa fokuskan cerita mengenai tokoh utama untuk mendukung alur cerita.
  5. Dialog
    Kemampuan penulis membuat dialog dalam novel atau cerpen akan sangat membantu membangun karakter tokoh. Dialog-dialog tersebut sebaiknya mampu memunculkan tema cerita, bukannya malah melenceng dari tema cerita yang sudah kita tetapkan diawal.
  6. Alur
    Cerita fiksi dikatakan menarik jika penulisnya mampu menyajikan alur cerita yang mengalir lancar serta mudah dan enak diikuti. Baca artikel eka kurniawan bagaimana membuat alur yang menarik pembaca, yang diibaratkan seperti berhubungan sex. Oleh karena itu, pastikan alur cerita bisa membuat pembaca merasa penasaran. Teknik membuat alur cerita yang baik dimulai dari kalimat paragraf pembuka yang menarik (ada kejutan) sehinga bisa menggiring rasa penasaran pembaca untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
  7. Baca Ulang
    Ini adalah rutinitas yang harus dilakukan seorang penulis. Walaupun nanti bakalan dibaca ulang oleh editor, tapi setidaknya kita berkawajiban untuk membaca ulang tulisan yang kita buat. Karena biasanya pada saat kita membaca ulang tulisan kita, kita bisa memperbaiki kesalahan yang biasanya tidak disadari pada saat pertama menulis.

Tahapan dalam penulisan fiksi ada 3, yang bisa membantu menghasilkan buku yang baik, sebagai berikut:

  • Tahap Persipan
    • Ide Cerita
      Ada dua alasan besar mengapa orang bersedia membeli buku kita, yaitu, ide cerita dan cara kita merangkai kata menjadi kalimat yang enak dibaca. Ide cerita juga harus mempunyai ide cerita yang unik dan menarik, sesuatu yang mendasar dan terjadi pada setiap orang, dan carilah sudut pandang yang berbeda. Dalam penulisan fiksi-pun kita juga bisa memodifikasi (ATM – Amati Tiru Modifikasi) tulisan dari orang-orang lain. Baca artikel eka kurniawan tentang  mendaur ulang cerita.
    • Target Pembaca
      Penulisan yang baik harus peka terhadap segmen pembaca yang kita targetkan. Kalau segmentasi kita lebih ke remaja sekolah, maka akan menentukan gaya bahasa yang kita gunakan, sehingga akan menarik para remaja sekolah untuk membaca buku kita. Begitu pula bila segementasinya anak-anak, fans manga/komik, remaja dewasa, dan sebagainya.
    • Mencari Judul
      Adanya judul dan tema bisa membantu kita supaya tidak melenceng saat menulis. Dan judul yang baik, akan membuat tertarik pembaca juga.
  • Tahap Membuat Tulisan
    • Penulisan
      Penulisan disini ya, kita mulai menulis cerita yang ingin kita tulis/sampaikan. Menulis, menulis, dan menulis. Baca ulang, baca ulang, dan baca ulang. Edit, edit, dan edit tulisan kita. Seiring berjalannya waktu, kita bisa menjadi penulis yang baik.
    • Penokohan
      Salah satu hal yang sering salah dilakukan oleh penulis adalah mencantumkan penokohan secara tidak proporsional. Hal ini berhubungan dengan keterbatasan buku sebagai media satu dimensi. Buku hanya mampu bercerita dengan tulisan, tidak dengan visual, sehingga ketika orang membaca sebuah nama, dia akan berasumsi bahwa tokog yang diberi nama tersebut adalah tokoh penting dalam buku. Seringkali didapati penulis yang bercerita panjang lebar tentang tokoh utama dari bab satu, tetapi bab berikutnya tokoh utama tidak muncul-muncul lagi. Hal itu tentu saja akan membingungkan pembaca.
      Buatlah tabel penokohan dalam menulis buku fiksi, agar memudahkan kita untuk membuat penokohan lebih baik. Tuliskan dalam sebuah tabel Nama, Peran, Background, Kondisi Psikologis, dan Kondisi Fisik.
    • Merancang Struktur Cerita
      Penulisan buku fiksi harus diawali dengan kemampuan menceritakan tokoh utama secara dramatis sehingga menarik minat pembaca.
      Beberapa tahap babak dalam penulisan buku fiksi adalah:
  • Babak 1 : Perkenalan masalah
  • Babak 2 : Inti Masalah
  • Babak 3 : Penyelesaian
  • Merancang Ending Cerita
    Perlu diingat bahwa kita harus sudah mengetahui ending cerita saat hendak mulai menulis sebuah buku fiksi. Jika ending berubah, sebaiknya perubahan itu tidak jauh berbeda dengan konsep awal cerita kita.
  • Membuat Gaya/Cara Bertutur
    Penulis fiksi yang sudah terbiasa menulis cerpen, novel, atau teenlit memiliki kemampuan untuk menuangkan ide secara kreatif serta bercerita secara unik. Jika kita sudah memiliki gaya bercerita sendiri dalam buku kita, berarti kita sudah memiliki trademark atau personal branding.
    Gaya menulis yang unik adalah suatu kemampuan yang tidak bisa dijabarkan secara teori karena kemampuan itu lahir secara alami dari dalam diri seseorang. Supaya kita luwes dalam menjalin cerita, rajin-rajinlah membaca buku fiksi karya penulis lain. Kita bisa memperhatikan cara penulis-penulis lain bercerita. Bagaimana mereka mengungkapkan cerita mereka, bagaimana mereka mengerem dan melajukan cerita untuk memunculkan suspence pembaca, dan bagaimana mereka menggunakan bahasa yang dibungkus dalam suatu jalinan cerita. Semua itu penting untuk kita pelajari.
  • Tahap Percetakan
    Berikut aspek-aspek yang harus kita kenali dalam post-production.

    • Membuat Cover
      Pada zaman sekarang ini, penulis saking bersaing untuk menghasilkan sebuah karya buku yang hebat. Oleh karena itulah peran Cover menjadi sangat penting. Seperti membuat cover yang simbolik, Explicit, dan Mencolok.
    • Membuat Back Cover dan Sinopsis
      Back Cover Comments (BCC) adalah faktor utama dalam pemilihan buku. Hal itu dikarenakan fungsi back cover sebagai referensi dari keseluruhan isi cerita dalam buku kita.
      Pembeli buku cenderung membaca sinopsis dari fiksi yang hendak dibeli. Oleh sebab itu, buatlah sinopsis semenarik mungkin untuk memancing minat pembaca supaya bersedia membeli buku kita tanpa perlu pikir panjang. Sekarang ini, penjualan bukku sudah sampai pada tahap oversupplied. Dengan begitu, dibutuhkan kejelian dari penulis untuk membuat sinopsis sebaik mungkin. Sinopsis bisa membantu agar buku kita cepat terjual, selain juga membantu orang untuk memutuskan apakah dia akan membeli buku kita atau tidak.

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on April 2, 2014, in Artikel, Buku, Fiksi, Jurnalistik, Tips dan Trik, Writing and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. A most excellent example of the pure talent that Clara Wieck Schumann possessed is “Tre Romances, Op. This is a surefire way to instill resentment among those you are leading. How do I Promote My Music as being a person in town.

  2. terima kasih infonya, sangat bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: