Berhati-hatilah saat kau merasa Rindu

puisi-rindu-buat-kekasih-yang-jauh

Pernahkan engkau merasakan merindukan sesuatu yang dulu engkau kutuki. Pernahkah kau merindu sesuatu yang dulu kau sesali, pernahkah engkau merasa ada yang kurang didalam hidupmu, dan kau merindukan sesuatu, sesuatu yang entah apa itu. Sesuatu yang masih abu-abu, tak kasat mata, namun hati merindukannya. Saya harap semua orang pernah merasakannya, agar tidak cuman saya yang mengalami hal tersebut.

Kubuka buku La Tahzan, karena logikaku tak mampu menghilangkan kerinduan hati ini. Dan sampai pada sebuah sub bab “Hati-hati dengan Rindu”, sungguh pas dengan apa yang ingin ku ketahui. Saya tak pernah menyelesaikan buku La Tahzan, karena setiap membacanya sedikit, saya menemukan jawaban yang membuat hatiku bersedih (lebay banget) hhh. Dan saat membukanya kembali, bim salabim, saaya menemukan apa yang harus kubaca.

Dalam buku itu tertulis (dalam bahasa Indonesia), Jangan pernah merindukan sesuatu secara berlebihan. Karena, yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam.  Seorang muslim akan bahagia ketika ia dapat mengatasi keluhan, kesedihan, dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mengatasi keterasingan, keterputusan, dan keterpisahan yang dikeluhkan para penyair. Betapapun yang demikian itu adalah tanda kehampaan hati.

Saya jadi teringat sebuah puisi dari W.S. Rendra tentang sebuah rindu, katanya (diakhir puisi) “Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku, tungku tanpa api.” Besar banget maknanya, tungku tanpa api, sungguh tak berarti. Tak bisa memasakan air, makanan, dan tak bisa mengisi perut yang kosong. Tak ada gunanya tungku itu dibuat, tak berarti, ya… hahaha

Lalu selanjutnya ada sebuah syair,

“Akulah yang menarik ujung kematian itu. Siapakah yang akan dituntut, ketika si korban sendiri yang terdakwa?”

wuih, sadap nie syair. Dijelaskan disitu, kita berhak merasakan sakit dan menderita, sebab kita adalah penyebab utama dari semua yang terjadi. Siapa yang sakit, siapa yang menyebabkan sakit, semua kembali kembali pada diri kita sendiri. Seandanya kita ‘woles‘ dalam menjalani semuanya, dan lebih berfikir secara jernih. Mungkin saj,a kita tak mencoba bunuh diri, dengan menusuk hati sendiri dengan belati dalam daging.

Tapi sering kali kita menyerah pada kehendak hati, nafsu untuk mencintai, nafsu untuk merindu, dan nafsu untuk menyakiti diri sendiri. Sehingga menimbulkan sesuatu yang berlebihan, apabila tidak dikontrol dengan baik oleh iman yang kuat, karena sesungguhnya rasa cinta, rindu, suka, dsb itu merupakan fitrah dari Allah SWT. Rasa suka yang berlebihan itu banyak sebabnya, diantaranya (menurut buku La Tahzan):

  1. Hati yang tak terisi oleh rasa cinta, rasa syukur, dzikir, dan ibadah kepada Allah.
  2. Membiarkan mata jalang. Mengumbar mata adalah jalan yang menghantarkan pada kesedihan dan keresahan.“Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.”” (QS. An-Nur: 30)Rasulullah juga bersabda, “Pandangan (mata) itu adalah satu dari sekian banyak anak panah iblis.”

    Ada sebuah syair:

    Jika kau liarkan matamu kepada semua mata, maka semua pemandangan akan membuatmu lelah.
    Kau lihat pemandangan, tapi tak seluruhnya mampu kaulihatdan kautatap

  3. Meremehkan ibadah, dzikir, do’a, dan shalat nafilah.“Sesungguhnya, shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Adapun obatnya,

“Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya, Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Dalam tafsir surat Yusuf ayar 24 itu, dijelaskan bahwa Nabi Yusuf tidak mengikuti hawa nafsunya, dengan cahay iman yang ada dihatinya, Yusuf telah mengalahkan Hawa Nafsu yang tak bisa dilawan lagi oleh akal.

  1. Berusaha untuk selalu berada di pintu-pintu ibadah dan memohon kesembuhan kepada Yang Maha Agung.
  2. Merendahkan pandangan dan menjaga kemaluan.
  3. Menjauhkan hati dari hal-hal yang bisa mengikat dan berusaha melupakannya.
  4. Menyibukkan diri dengan amal saleh dan berguna.
  5. Menikah secara syar’i.

Mungkin segitu saja, semoga saya bisa meredakan rasa Rindu yang bisa membunuh akal.

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Januari 24, 2014, in Artikel, Coffee Time, Islam, LifeStyle, Motivasi, Renungan, Writing and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: