Malam Satu Suro di Cepuri Parangkusumo

_DSC8172

Cepuri Parangkusumo

Saat pertama memasuki pantai parangkusumo pada senin (04/10), kami disambut oleh perhelatan pertunjukan wayang orang yang didalangi oleh Ki Manteb Soedharsono di Pendopo Parangkusumo. Acara tersebut merupakan langkah dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bantul untuk meningkatkan jumlah pengunjung di tahun ini. Pengunjung yang datang dari berbagai daerah tersebut, membuat suasana di pantai parangkusumo sangar ramai, apalagi terdapat pasar malam disana.

Di sebelah timur dari pendopo parangkusumo, terdapat cepuri parangkusumo yang dulunya dijadikan petilasan panembahan senopati. Terletak 30 km dari kota yogyakarta, para juru kunci menyakini Pantai Parangkusumo sebagai pintu masuk ke istana laut selatan. Didalamnya banyak peziarah menaburkan kembang setaman dan serangkaian sesajen di Batu Cinta, yang dulunya dijadikan Panembahan senopati bertemu dengan ratu kidul dan membuat perjanjian. Alasan kenapa dinamakan batu cinta, karena pada saat itu ratu kidul jatuh cinta kepada senopati, dan akhirnya mengabulkan permintaan senopati untuk bisa memerintah mataram, sebagai balasannya Senopati dan seluruh keturunannya mau menjadi suami Ratu Kidul, Senopati akhirnya setuju dengan syarat perkawinan itu tidak menghasilkan anak.

Saat memasuki tempat cepuri, kita mengharuskan melepas alas kaki, dan kita akan di sambut oleh para kuncen atau juru kunci yang berjaga di tempat petilasan tersebut. Menurut Surakso Rajio Hadihusna, selaku pemimpin juru kunci yang juga menjabat sebagai takmir masjid darussalam itu, tempat ini dibuka setiap hari dan para peziarah datang dari berbagai daerah dan dari berbagai macam kepercayaan. Menurutnya walaupun tempat ini dijadikan tempat untuk berdo’a untuk meminta apa saja, tetapi menurutnya harus ada usaha yang nyata, karena sesuatu tidak akan turun dari langit. “Masyarakat yang mengunjungi tempat ini bukan meminta sesuatu pada batu tetapi dengan Tuhan Yang Maha Esa” tambahnya.

Masyarakat yang mengunjungi tempat ini mempunyai kebiasaan setelah selesai berdo’a, akan mencoba mencari-cari kembang (bunga) kanthil disekitar batu. Masih menurut Pemimpin juru kunci, permintaan doa akan lebih afdol apabila peziarah bisa mendapatkan kembang kanthil dan membawa pulang sebagai tanda berkah akan terkabulnya do’a mereka.

Bunga Kanthil

Bunga Kanthil

_DSC8219

Surakso Rajio Hadihusna

_DSC8167

kuncen atau juru kunci

_DSC8156

para peziarah

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on November 5, 2013, in Bla bla bla, bla, FotoJurnalisme, Jurnalistik, Photography, Writing and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: