Fotografi Jurnalistik: Antara Hoby dan Profesi

_DSC0051

Hobi merupakan suatu kegiatan untuk mengisi waktu luang yang biasa dilakukan oleh para pemuda di Indonesia. Tapi, di Indonesia hobi menjadi sebuah kegiatan musiman. Banyak hobi yang digeluti tak dijadikan keseriusan, dalam waktu beberapa bulan, hobi itu menjadi hiasan di lemari kaca para pemuda di Indonesia. Tidak terkecuali hobi fotografi.

Pada saat ini, siapa yang tidak mempunyai kamera DSLR ? semua yang mempunyai kantong tebal, pasti punya gadget yang satu ini. Tapi seperti hobi-hobi lainnya, para fotografer musiman ini tak selamanya menjadi hobi. Masih ingat saat dulu masuk pertama kuliah semester 3 (tahun 2011), pemuda di Yogyakarta khususnya mempunyai sepeda yang kita sebut sepeda fixie, siapa anak gaul yang tidak punya sepeda fixie ? hampir semua punya, seiring berjalan waktu hanya bertahan 1 semester lebih, sepeda fixie lenyap ditelan perkembangan pergaulan yang sangat cepat. sepeda fixie pun banyak dilelang, dijual belikan bekas.!

Membawa kamera besar, dengan lensa panjang, ketempat-tempat strategis menjadi pemandangan baru setelah sepeda fixie menjamur. Sepertinya saat ini, kamera dslr yang menjadi jenis jamur untuk para pecinta hobi di Indonesia.

Sebenarnya hobi-hobi yang ditekuni tidak semua berakhir di Forum Jual Beli, ada yang tetap menggeluti hobinya tersebut sampai sekarang. kenapa bisa seperti itu ? karena hobi itu sudah menjadi setengah profesi, hobi itu sudah masuk kedalam jiwa si empunya. Kenapa saya disini menyebut sebagai setengah hobi ? Karena kata profesi sendiri merupakan pekerjaan, jadi karena masih diangggap saya panggil saja sebagai setengah profesi. Terlepas dari apapun panggilannya, disini saya akan membahas tentang dunia fotografi jurnalistik yang menjadi sebuah kegiatan antara hobi dan profesi.

Tahun 2012, saya beli kamera DSLR, entah karena teman-teman saya sudah punya dslr semua atau mungkin karena dari dulu saya menginginkan sebuah kamera. Saya bergabung dengan salah satu lembaga pers mahasiswa di kampus UII (HIMMAH). Pertama saya bergabung ingin menjadi wartawan yang menulis berita, karena kamera sudah saya punya dan sepertinya nasib kameraku bakalan seperti hobi2 yang bernasib di lemari pajangan bahkan terposting di FJB, makanya saya memutar setir menjadi fotografer jurnalistik. Yang saya pikir ini kegiatan lebih ke arah profesi dibandingan sebuah hobi.

Benar saja, fotografi jurnalistik tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai macam tuntutan profesi ada disini, mulai dari deadline, berhadapan dengan kurator, dan objek foto yang kurang bersahabat. Kenapa kurang bersahabat, karena yang kita foto bukan apa yang kita mau, tapi apa yang ada dilapanganlah yang menentukan kemauan kita. bingung ? saya juga.

Intinya fotografi jurnalistik tidak seperti genre-genre fotografi pada umumnya, yang bisa ditulis di kertas apa-apa saja yang mau kita lakukan/kita foto. Lapanganlah yang akan menentukan apa yang kita foto, pada saat dilapanganlah segala macam konsep dibentuk. disini kita membutuhkan jam terbang yang banyak, analisa sosial yang peka, dan juga mental yang kuat.

Sebagai mahasiswa yang sibuk dengan berbagai kegiatan akademis, fotografi jurnalistik merupakan tantangan tersendiri. Dikarenakan untuk mencari foto, waktu, sekali lagi, bukan kita yang menentukan. Lapanganlah yang menentukan. Deadline.!

Coba kalian bayangkan saat kegiatan kuliah padat, dan dapur redaksi di lembaga terus berjalan, mau tidak mau kita harus meluangkan waktu yang tidak sedikit untuk mencari foto berita, foto tunggal, dan juga foto essay.! Disamping itu tekanan dari luar untuk menghasilkan foto berkualitas datang terus menerus, untuk mengadakan pameran-pun menjadi keharusan tersendiri. menambah kerumitan fotografi yang awalnya hanya sebagai hobi, menjadi sebuah profesi yang memakan waktu, tenaga yang banyak.

Kini kameraku tidak menganggur dilemari pajangan atau terpampang di FJB, tapi melalang buana kemana-mana, Dropbox yang saya beli mahal-mahalpun tak berguna sama sekali. mungkin kalau kalian ingin mencari kegiatan yang menjadi setengah profesi, fotografi jurnalistik bukan menjadi pilihan yang recommended.! Fotografi jurnalistik, dimanapun tempatnya, telah bermetamorfosis menjadi sebuah PROFESI…!

 

Selamat menjalankan profesi fotografer jurnalistik…!

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Oktober 31, 2013, in FotoJurnalisme, Jurnalistik, Photography, Writing and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: