Berita adalah Jendela Dunia ?

Dalam satu bukunya yang sangat berpengaruh, Making News, Tuchman mengawalinya dengan ilustrasi yang menarik. Katanya, “berita adalah jendela dunia. Melalui berita, kita mengetahui apa yang terjadi Aceh, di Papua, dan di Jakarta. Melalui berita, kita mengetahui apa saja yang dilakukan oleh elit politik di Jakarta, kehidupannya, kegiatannya. Tetapi apa yang kita lihat, apa yang kita ketahui, dan apa yang kita rasakan mengenai dunia itu tergantung pada jendela yang kita pakai. Pandangan lewat jendela itu, tergantung pada apakah jendela yang kita pakai besar atau kecil. Jendela yang besar dapat melihat lebih luas, sementara jendela kecil membatasi pemandangan kita. apakah jendela itu berjeruji ataukah tidak. Apakah jendela itu bisa dibuka lebar ataukah hanya bisa dibuka setengahnya. Apakah lewat jendela itu kita bisa melihat secara bebas ke luar ataukah kita hanya bisa mengintip di balik jerujinya. Yang paling penting, apakah jendela itu terletak dalam rumah yang punya posisi tinggi ataukah dalam rumah yang terhalang oleh rumah lain. Dalam berita, jendela itu yang kita sebut sebagai frame (bingkai).

Seperti layaknya kalau kita melihat lewat jendela, seringkali batasan pandangan menghalangi kita untuk melihat realitas yang sebenarnya. Edward Said pernah memberikan kritik yang tajam bagaiman Islam dilihat dalam jendela barat. Media-media di Barat, menurut Said, menggambarkan Islam dengan pandangan yang ortodoks. Islam yang digambarkan dengan kegarangan, dengan tradisional. Media banyak mewawancarai orang yang itu-itu saja, pakar yang itu-itu saja, dan dengan pandangan yang buruk terus-menerus. Islam identik, dengan potong tangan atau hukuman rajam yang tidak manusiawi, dan orang-orangnya yang culas serta teroris. Islam bagi masyarakat di Barat identik dengan TImur Tengah. Wilayah itu hanya masuk dalam imajinasi mereka. Media adalah sarana yang paling dominan bagaimana wilayah itu digambarkan dan ditampilkan, dan akhirnya memenuhi imajinasi, impian, dan stereotip tentang Islam.

Hal yang sama berlaku di Indonesia. Masyarakat Melayu atau Dayak yang sadis tengah dipertontonkan kalau kita membaca koran. Apa yang tergambar mengenai kerusuhan antarsuku itu kita peroleh dari media, jarang dari kita yang melihat dan mengalaminya secara langsung. Kalau kita baca koran maka yang muncul dalam benak kita adalah bagaimana orang Dayak itu begitu biadab. Pandangan semacam ini ditentukan oleh media. Lebih khusus lagi oleh frame: bagaimana peristiwa dilihat, lantas ditampilkan, ditonjolkan oleh media tentang peristiwa, aktor, atau kelompok tertentu.

Hasil dari suatu berita yang menjadi jendela dunia tersebut didapat oleh interaksi antara proses Interaksi dan Dialetkrika dalam eksternalisasi dan internalisasi pendekatan personal seorang wartawan. Sebagaimana dialetika (berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara untuk menyelidiki suatu masalah) seorang wartawan atau reporter, akan melalui proses eksternalisasi terlebih dulu. Contohnya adalah kasus bocornya sprindik penangkapan Anas Urbaningrum. Wartawan yang datang meliput bocornya sprindik penangkapan KPK–yang akhirnya berujung pada penangkapan Anas dan terjadi pelbagai drama didalamnya, mempunyai kerangka pemahaman dan konsepsi tersendiri tentang peristiwa ini. Ada yang melihat persitiwa tersebut sebagai kepentingan politik: menjatuhkan saingan politik di kubu partai Demokrat. Ada juga yang melihat kasus tersebut untuk menjatuhkan kredibilitas dari KPK: untuk memecah konsentrasi KPK dalam mengasut kasus-kasus korupsi di Indonesia; dan sebagainya. Berbagai skema dan pemahaman itu dipakai untuk menjelaskan peristiwa dan fenomena yang terjadi. Proses selanjutnya adalah internalisasi. Ketika berita melakukan reportase, mengikuti perkembangan KPK, mengikuti perkembangan politik yang terjadi di partai Demokrat. Pernyataan dari KPK, tanggapan dari Anas Urbaningrum, panasnya panggung perpolitikan di kubu Demokrat, perpecahan pendukung, dan sebagainya. Aneka peristiwa tersebut diinternalisasi dengan cara dilihat dan diobservasi oleh wartawan. Terjadi proses dialektika antara apa yang ada dalam pikiran (suduh pandang) wartawan dengan apa yang dilihat wartawan. Berita, karenanya, adalah hasil interaksi antara kedua proses tersebut. Dan setiap wartawan berbeda-beda dalam memperoleh dan menyampaikan hasil dialektika yang terus menerus terjadi.

Masihkah, berita menjadi jendela dunia, seperti yang diilustrasikan oleh Gay Tuchman ? Mungkin ini juga berlaku untuk “Buku” yang menjadi jendela dunia.😀 Tapi hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah yang jadi jendela Dunia dan Akhirat kita… hehehe

 

sumber: semua diperoleh dari bab awal buku Analisis Framing karya Eriyanto.

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on September 28, 2013, in Artikel, Berita, Buku, Jurnalistik, Writing and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: