Semangat Belajar Islam di Lereng Merbabu

Sekolah Sore

Sekolah Sore

Sore itu, pukul 04.00, udara lereng merbabu terasa dingin menembus tebalnya jaket. Saya bersama teman-teman Jurusan Teknik Elektro Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang berjumlah 29 orang itu berhenti di desa Kedakan, Kenalan yang ditempuh melewati Magelang, dan melalui Kopeng tersebut, yang ditempuh dari arah Yogyakarta. Tempat ini merupakan salah satu rute pendakian untuk mencapai puncak Merbabu yang mempunyai 2 pos pemberhentian. Didalam pos ke-2 banyak dijadikan tempat berkemah, karena adanya sumber air yang melimpah disana. Gunung merbabu merupakan salah satu dari banyaknya gunung di Indonesia yang mempunyai ketinggian diatas 3000 meter diatas permukaan air laut (dpl), yaitu sekitar 3145 m dpl.

Mengajar

Mengajar dan Belajar

Sebelum memasuki area hutan, tepat disebelah kiri jalan, berdiri Masjid berwarna hijau yang atapnya belum selesai dibangun. Dari luar Masjid ini terdengar ramai oleh beberapa suara anak-anak yang terdengar sedang belajar agam Islam dan sekali-kali terdengar senda gurau mereka. Saat memasuki kedalam Masjid Nurul Huda, udara dingin perlahan mulai menghilang. Melepas jaketpun, tak jadi masalah disini. Pemandangan yang pertama kali ditangkap saat memasuki Masjid ini adalah, ramainya masjid oleh anak-anak yang sedang belajar agama dan beberapa orang tua yang sedang mengajar di dalam Masjid . Dengan papan hitam bergoreskan kapur putih yang terpajang di kanan dan kiri masjid tersebut, membuat masjid ini sebagai tempat untuk pembelajaran yang kurang memadai. Dengan 6 papan tulis untuk 6 kelas pembelajaran tanpa ada skat untuk memisahkan masing-masing kelas, membuat proses belajar yang tidak kondusif.

Menjalankan Shalat

Menjalankan Ibadah Shalat

Bejo, panggilan akrab salah satu dari total 14 pengajar di Madrasah Masjid Nurul Huda, yang mengajar kurang lebih 50 siswanya ini, meng-iyakan akan kurangnya fasilitas tempat belajar dan mengajar agama Islam di desa tersebut. Terpaksa, dengan segala kekurangannya, menjadikan masjid ini menjadi tempat untuk Madrasah (mengajar) tentang keislaman. “Tidak ada tempat lain untuk bisa dijadikan tempat mengajar. Masjid menjadi solusi, sekalian bisa praktek langsung Shalat, dan beberapa pelajar yang lain.” Imbuhnya.

Beranjak Pulang

Beranjak Pulang

Setiap bulannya para wali dari setiap murid, memberikan sumbangan sebesar 2000 rupiah. Dana hasil sumbangan tersebut digunakan untuk segala kebutuhan proses belajar mengajar, seperti untuk membeli buku, alat tulis, kapur dan lain sebagainya. Mereka yang mengajar di Madrasah ini, ikhlas tanpa dibayar sama sekali demi mengajarkan Islam sedini mungkin kepada anak-anak didesa tersebut. Didaerah yang penduduknya mayoritas beragama Islam, yaitu sekitar 70 % ini, merupakan contoh bagaiman semangat belajar mengajar mengalahkan segala macam kekurangan yang ada. Yang mereka harapkan hanyalah tempat yang layak untuk bisa belajar.!

Kid Riders - 2

Pengendara Cilik

Keceriaan

Keceriaan

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on September 18, 2013, in Coffee Time, FotoJurnalisme, Jurnalistik, Photography and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: