Jaminan Sosial: Harapan dan Kemampuan

Jaminan sosial merupakan paduan kata dari social yang berarti masyarakat, society (banyak orang), dan security atau se-curus (kata latin): se- yang berarti pembebasan atau liberation dan curus yang berarti kesulitan atau uneasiness. Dengan demikian, jaminan sosial mengandung arti “pembebasan kesulitan masyarakat”. Dalam istilah lain, jaminan sosial biasa pula diidentikan dengan perlindungan sosial yang berorientasi pada pemberian jaminan oleh negara kepada rakyatnya. Karena itu, alasan utama jaminan sosial diberikan kepada warga negara adalah karena jaminan sosial dapat melindungi warga negara dari risiko-risiko ekonomi dan sosial. International Labour Organization/ILO (1952) mendefinisikan jaminan sosial sebagai “… the protection which society provides for its members, through a series of public measures against the economic and social distress that otherwise would be caused by the stoppage or substantial reduction of earnings resulting from sickness, maternity, employment injury, unemployment, invalidity, old age, and deadth; the provision of medical care and provison of subsidies for families with children.” Jaminan sosial menjadi seperangkat instrumen publik untuk mengatasi kesulitan ekonomi sosial yang disebabkan oleh berhenti atau menurunnya penghasilan seseorang akibat sakit, hamil, kecelakaan kerja, menganggur, cacat, usia tua, dan kematian. wujud pemberian jaminan sosial dapat berupa perawatan medis dan pemberian subsidi pada keluarga beserta anaknya. jaminan sosial memiliki nilai dan manfaat yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan dasar manusia (basic human needs).

sebagai instrumen dan strategi kesejahteraan, jaminan sosial bukanlah pengeluaran publik yang sia-sia, melainkan sebuah bentuk investasi sosial yang menguntungkan dalam jangka panjang berlandaskan dua pilar, yaitu redistribusi pendapatan dan solidaritas sosial (Spicker, 1995:58-60). Redistribusi pendapatan dapat berbentuk vertikal maupun horizontal. Dalam bentuk vertikal, jaminan sosial bersifat progresif (dari orang kaya ke orang miskin) atau regresif (dari orang miskin ke orang kaya). Sedangkan yang berbentuk horizontal dapat berupa “antar-kelompok”: dari kelompok satu ke kelompok lainnya atau dapat juga bersifat “antar-pribadi”. Terkait hal ini, Spicker mengatakan “a lareger part of welfare provision is support for children, who repay when they are adults, for people who are sick, who pay when they are well, and for pensioners, who have paid while they were working” (Spicker, 1995:60)

Solidaritas sosial berbentuk dukungan yang saling menguntungkan (mutual aid) dan merupakan aksi kolektif. Dukungan yang saling menguntungkan menunjuk pada ide diversification of risks, di mana setiap anggota masyarakat atau organisasi setuju untuk berbagi risiko dan tanggung jawab dalam menghadapi ketidakpastian yang mungkin dialami di masa depan (Spicker, 1995: MHLW, 1999). Pilar ini mengumpamakan sebuah peredaran uang di antara anggota atau peserta jaminan sosial sehingga terjadi mekanisme saling melindungi di antara mereka yang pada akhirnya menjadi sebuah investasi sosial yang memberi kontribusi dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup negara-bangsa secara berkelanjutan (Nurhadi, 2007:133). Dalam kerangka ini jaminan sosial akan berlangsung linear dengan kesejahteraan rakyat, sebab terbentuk tatanan yang seimbang di antar warga negara yang terlibat dalam jaminan sosial. Artinya, semakin baik penataan sebuah sistem distribusi jaminan sosial, semakin berkurang risiko kemiskinan, dan dengan demikian memastikan semakin membaiknya jaminan kesejahteraan sebuah masyarakat.

Hampir setiap negara sepakat memberikan jaminan sosial kepada rakyatnya. Jaminan tersebut diorientasikan terutama untuk mengatasi risiko kemiskinan dan ketimpangan sosial. Tiap-tiap negara menerapkan sistem pemberian jaminan sosial yang berbeda-beda, tetapi pada umumnya bantuan jaminan yang diberikan itu berbentuk asuransi dan bantuan sosial. Cheyne, O’Brien, dan Belgrave (1998) juga mengaitkannya dengan peningkatan akses terhadap pelayanan sosial dasar seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Intinya, bentuk pemberian jaminan tersebut akan tergantung dari mekanisme yang telah ditentukan oleh negara.

Mekanisme jaminan sosial oleh negara sudah tentu mempertimbangkan manfaat yang dapat dihasilkan. Tidak jauh berbeda dengan bentuk jaminan sosial, manfaat yang dapat dihasilkan. Tidak jauh berbeda dengan bentuk jaminan sosial, manfaat jaminan juga mengacu pada mekanisme yang diatur negara. Manfaat dalam hal ini berupa benefits in cash yang berwujud bantuan barang dan berkontribusi secara langsung pada penerima jaminan sosial (beneficiaries); atau berupa benefit in kind dalam wujud pelayanan sosial yang dapat diperoleh dengan mudah oleh masyarakat karena telah mendapat tunjangan dari negara.

Kendati mekanisme pelaksanaan jaminan sosial telah diatur sedemikian rupa, namun disisi lain masih terdapat berbagai kendala yang disebabkan oleh keterbatasan negara. Keinginan untuk menyejahterakan rakyat dengan memberikan jaminan belum tentu bisa selaras dengan kapasitas yang dimilikinya. Ketimpangan antara keinginan dan kapasitas ini seperti apa yang disebut Ted Robert Gurr (1971) sebagai deprivasi realtif, yakni the discrepancy betwen ought and is (ketidakcocokan antara semestinya dan yang diberikan). Ketimpangan antara keinginan memberikan jaminan sosial secara optimal belum tentu sesuai dengan kemampuan untuk menyediakannya.

Dalam penjelasan tentang deprivasi relatif, Gurr (1971:46) membaginya dalam tiga bentuk:

  • Pertama, decremental deprivation, yaitu kesenjangan yang terjadi bila nilai-nilai harapan tidak berubah tetapi kemampuan menurun. Dalam konteks ini, ketika kemampuan menurun tentu harapan akan sulit dicapai karena adanya keterbatasan.
  • Kedua, aspirational deprivation, yaitu kesenjangan akan muncul bila kemampuan tidak berubah sementara harapan justru meningkat. Ekspektasi yang tinggi pasti membutuhkan kemampuan yang tinggi pula untuk mencapainya. Artinya, jika kemampuan selalu tetap sementara harapan kian tinggi, maka tujuan akan sulit diraih.
  • Ketiga, progressive deprivation, yaitu kondisi yang akan terjadi bila kedua unsurnya berubah secara serentak, yaitu terjadi peningkatan harapan dan penurunan kemampuan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang pertama dan kedua yakni tidak akan mencapai tujuan karena harapn dan kemampuan berlawanan arah.

Studi tentang jaminan sosial menggunakan skala deprivasi relatif menjadi kerangka yang penting dalam menggali dinamika jaminan sosial di Indonesia. Adanya perubahan pada jaminan sosial dalam perkembangannya perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui adanya kesesuaian dengan harapan rakyat ataupun negara sendiri. jika sekadar berbeda dari yang sebelumnya, pasti belum tentu akan menambah manfaat yang luas. Karena itu, transformasi yang terjadi pada dasarnya juga menuntut kemampuan negara dalam menyediakan jaminan secara progresif. perubahan-perubahan yang ada menjadi sebuah deskripsi awal untuk menentukan progresivitas jaminan sosial sebagai komitmen negara.!

==================================================

Sumber: Buku “Indonesia Bergerak (Pemikiran Komunitas Sekip Untuk Perubahan)”

Buku yang sangat bagus, dari hasil diskusi MAP-UGM. Sayang kalau hanya saya saja yang membacanya, makanya saya menulis beberapa tulisan dibuku ini, agar teman-teman diseluruh Nusantara bisa membaca lewat blog ini. Tidak ada unsur untuk mendapatkan royalti, hanya sekedar menyampaikan ilmu yang bermanfaat dari kawan-kawan MAP-UGM. Dan kawan-kawan dari komunitas MAP UGM-pun, ingin hasil diskusinya bisa dibaca oleh semua orang…😀

Salam…

=================================================

Jangan lupa beli bukunya ya… ^o^

==================================================

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Juni 6, 2013, in Artikel, Buku, Jurnalistik, Pendidikan, Renungan, Writing and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: