Dinamika Jaminan Sosial di Indonesia

Jaminan sosial di Indonseia masih memprihatinkan. SJSN yang disahkan tahun 2004, masih tidak menentuk selama 7 tahun. Tahun 2011 UU BPJS disahkan, dan mulai dijalankan 1 januari 2014 !

Jaminan sosial di Indonseia masih memprihatinkan. SJSN yang disahkan tahun 2004, masih tidak menentuk selama 7 tahun. Tahun 2011 UU BPJS disahkan, dan mulai dijalankan 1 januari 2014, berjalan sesuai rencanakah ?!

Beberapa waktu lalu buruh bersorak menyambut lahirnya UU No.24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Setelah melalui perdebatan panjang, terkait beberapa pasal yang mentransformasikan BUMN menjadi badan nirlaba, akhirnya BPJS terbentuk sebagai badan yang secara khusus mengurusi jaminan sosial secara formal. Empat BUMN, yaitu PT Askes, Jamsostek, Taspen, dan Asabri dilebur dalam wadah BPJS. wadah tunggal ini tidak lagi berorientasi ganda (profit dan kesejahteraan sosial), tetapi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana yang diamanatkan konstitusi. setelah UU Sistem Jaminan Sosial Nasional/SJSN (UU No.40 Tahun 2004) lahir sebagai bentuk reformasi jaminan sosial di Indonesia. BPJS dikukuhkan sebagai bentuk reformasi jaminan sosial di Indonesia, BPJS dikukuhkan sebagai institusi resmi penyelenggara jaminan sosial nasioanl yang akan aktif pada tahun 2014 mendatang. perubahan ini menandai sebuah babak baru dalam upaya negara melindungi dan menjamin kesejahteraan rakyat. langkah transformasi ini memang sudah seharusnya dilakukan mengingat penyelenggaraan jaminan sosial sebelumnya hanya dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat, yakni mereka yang bekerja di sektor formal, sementara kelompok masyarakat yang lain masih terabaikan. cakupan kepesertaan maupun jenis jaminan pun masih terbatas karena belum mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. padahal secara tegas UUD 1945 pasal 34 ayat 2 menyatakan bahwa “negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusiaan.” Disini negara mengemban amanah untuk sedapat mungkin memberikan jaminan penghidupan yang layak bagi warga negaranya tanpa membedakan ideologi, jenis kelamin, afiliasi politik, ras, agama, status sosial. dengan kata lain, jaminan sosial seharusnya dilaksanakan secara menyeluruh dan adil bagi semua warga negara. amanat konstitusi bukan alasan satu-satunya yang mendesak agar jaminan sosial perlu segera diperbaharui. hal yang lebih penting dari itu adalah pembenahan tata cara pelaksanaan jaminan sosial yang tidak sinergis dengan perkembangan kondisi masyarakat, rentan menimbulkan kemiskinan atau resiko sosial lainnya (pengangguran, ketimpangan sosial)–meskipun jaminan sosial sesungguhnya hadir untuk mencegah risiko tersebut (ILO, 1952; Spicker, 1995; MHLW, 1999, suharto, 2008). sebaliknya, angka kemiskinan juga sulit mengalami penurunan karena ditengarai bahwa penyelenggaraan jaminan sosial selama ini kurang optimal ataupun tidak relevan lagi. studi ini berangkat dari asumsi yang melihat kemampuan negara masih sangat terbatas ataupun mungkin sengaja dibatasi dalam menangani urusan kesejahteraan. hal ini masih menjadi nalar spekulatif yang terbuka untuk didiskusikan.

penyelenggaraan jaminan sosial yang minimal merupakan bukti nyata ketertinggalan negara dalam mengupayakan kesejahteraan sosial. membandingkan situasi ini di Indonesia dengan beberapa negata Asia lainnya, seperti Malaysia, Filipina, atau Thailan, Indonesia jauh tertinggal dalam pengembangan sistem jaminan sosial bagi warga negaranya. proporsi anggaran (budget) yang dikeluarkan setiap tahun tidak lebih dari proporsi anggaran (budget) yang dikeluarkan setiap tahun tidak lebih dari 5% PDB. sebagai contoh, dalam analisis Thabrany dipaparkan bahwa jaminan kesehatan Indonesia sangat terbelakang. Negara-negara maju menghabiskan 7,7% PDB mereka untuk belanja kesehatan, sedang negara menengah (middle-income countries) setara Indonesia, 5,8% PDB, dan negara miskin 4,7% PDB. jika dibandingkan dengan Indonesia, anggaran negara-negara tersebut masih lebih tinggi dari Indonesia yang hanya mengeluarkan 2,5% PDB. dengan kondisi seperti ini dapat dipastikan belanja kesehatan akan lebih banyak ditanggung oleh publik, yakni masyarakat sendiri (Thabrany, 2009: 7). Karenanya, kehadiran lembagabaru (BPJS) yang akan mengurus masalah sistem jaminan sosial di Indonesia yang lebih maju.

Sebagai refleksi atas hadirnya dua pilar kebijakan berorientasi jaminan sosial tersebut, tulisan ini akan menganalisis dinamika jaminan sosial di Indonesia yang kini berada pada periode transisi menuju ke sistem yang lebih baik. Kajian ini penting untuk mengetahu arah perkembangan jaminan sosial di Indonesia. secara spesifik, tulisan ini akan menganalisis kehadiran BPJS menggunakan pendekatan deprivasi relatif: Yaitu mencermati relevansi perubahan jaminan sosial dengan ekspektasi negara-rakyat dan kemampuan yang dimiliki negara untuk mewujudkan ekspektasi tersebut. dengan cara ini perkembangan sistem jaminan sosial di Indonesia dapat dipahami.

==================================================

Sumber: Buku “Indonesia Bergerak (Pemikiran Komunitas Sekip Untuk Perubahan)”

Buku yang sangat bagus, dari hasil diskusi MAP-UGM. Sayang kalau hanya saya saja yang membacanya, makanya saya menulis beberapa tulisan dibuku ini, agar teman-teman diseluruh Nusantara bisa membaca lewat blog ini. Tidak ada unsur untuk mendapatkan royalti, hanya sekedar menyampaikan ilmu yang bermanfaat dari kawan-kawan MAP-UGM. Dan kawan-kawan dari komunitas MAP UGM-pun, ingin hasil diskusinya bisa dibaca oleh semua orang…😀

Salam…

=================================================

Jangan lupa beli bukunya ya… ^o^

==================================================

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Juni 5, 2013, in Artikel, Berita, Buku, Jurnalistik, Pendidikan, Renungan, Writing and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: