Ketika lupa bayar SPP untuk UTS

Pagi ini (13/11/12) merupakan hari pertama ujian tengah semester (UTS) pada semester ke-lima ini. Bangun jam 5, sholat subuh dan bermain internet, browsing sana sini. Sebenarnya mau belajar, tapi belajar apa ? Materi ujian pada hari ini adalah Otomasi Industri, selama setengah semester hanya 5 kali pertemuan dari 7 kali pertemuan wajib, dan dari kelimanya saya hanya mendapatkan materi berupa praktek yang menurut saya membingungkan, apalagi baru bertemu dengan yang namanya automasi industri berikut apilkasinya, apalagi hari pertama praktikum saya nggak berangkat karena salah informasi.

Waktu melaju dengan cepat, tanpa dirasa waktu sudah menunjukan angka 7, waktunya saya mandi untuk siap-siap berangkat, sebelum mandi saya bikin segelas susu dipagi hari, biar setelah mandi susu sudah menjadi hangat dan siap untuk dilahap.

Air sangat dingin, walaupun waktu sudah terbilang siang. mandi dengan santai, sambil sesekali menggigil. Tiba-tiba teringat akan kartu untuk ujian. deeg, badan serasa dingin panik, mulutpun tak berhenti mengucap istigfar.

“Atagfirullah haladzim, belum bayar SPP ! gimana nanti pas ujian, bisa-bisa nggak ikut UTS, bisa-bisa, bisa-bisa… aaaaa”

pikiran kemana-mana, rasa dingin, lapar, ngantuk semua hilang. Berganti rasa was-was, khawatir, rasanya… mimpi apa saya semalam, sudah berbuat dosa apa saya ini, musibah apa lagi ini. segala macam kekesalan saya luapkan dipikiran saya.

Bergegas mandi cepat, dengan gerakan cepat tak seperti biasanya. saya sudah berpakaian. Langsung saya menungjungi website unisys.uii.ac.id untuk mengetahui, sampai kapan batas pembayaran SPP untuk UTS. dan tak disangka, sampai tanggal 13 november 2012, ya hari ini, tapi batas akhirnya sampai jam 1 dini hari tadi, saat saya terlelap dalam tidur.

oooo, shiiit. kenapa baru ingat sekarang.

Uang yang seharusnya buat bayar SPP, sebenarnya sudah ada seminggu yang lalu, namun selalu saya tunda. Dan uangpun saya simpan dilemari, dibawah baju-baju. takut kehilangan uang tersebut. sampai sekarangpun, uangnya masih rapih dibawah tumpukan baju-baju.

macbook masih menyala dan terbuka, susu masih belum terminum. Saya tak memperdulikan semua itu, bergegas dengan cepat saya berangkat kuliah, untuk Ujian Tengah Semester.

dengan mengendarai motor Xeon biru saya, tanpa memanasi, langsung saya tancapkan gas penuh. untuk segera menyelesaikan masalah yang amat membuatku lemas karena takut.

Saya teringat akan cerita teman saya yang kuliah di UPN Jogja, yang telat bayar SPP sampai seminggu lebih yang mengakibatkan diberikannya cuti selama satu tahun atau dua semester. yang membuat teman saya, pindah kampus setelah dua tahun kuliah di UPN. bayangkan kalau itu terjadi kepada saya, masya Allah, jangan sampai hal itu terjadi.

Sesampainya dikampus, saya bertanya kepada teman saya mengenai hal yang terjadi. dan teman saya menyarankan untuk pergi ke bagian pengajaran. sayapun minta ditemani.

Sesampainya dipengajaran, banyak mahasiswa yang baru mengambil kartu ujian, tapi dengan kartu tanda bukti pembayaran. sedangkan saya,-_-

Sayapun memberanikan diri untuk mengatakan bahwa saya belum bayar SPP, atau lebih tepatnya lupa bayar :p

“Pak, saya mau ngambil kartu. Tapi saya belum bayar SPP” dengan cepat, saya mengucapkan. dan sepertinya Bapak bagian pengajaran ini, tak begitu kaget dan peduli dengan “belum bayar SPP”.

“Jurusan?” tanya beliau.

“Teknik Elektro pak”

“Angkatan?”

“2010 pak”

“Nomer mahasiswa terakhir?”

“21 pak” jawabku singkat.

Diapun langsung mencari-cari kartu ujian. setelah ketemua, langsung tanpa kaku bapak ini menyentempel kartu saya dengan sebuah stempel “BELUM LUNAS”

“Kalau sudah lunas, nanti bawa kesini lagi” lanjtu bapak menjelaskan.

“Bayarnya disini bisa pak. Saya bawa uangnya nieh.”

“Bayarnya di bank saja, nanti biar tanda bukti pembayaran bawa kesini” jawab beliau.

“Iya pak, makasih”

lega rasanya, plooong. ucap syukur, tak pernah henti kuucapkan. untuk menuntaskan rasa was-was dihati saya. huft….

Sepertinya bukan saya satu-satunya yang belum/lupa bayar SPP. Dan sepertinya UII, tak terlalu ‘kasar’ untuk masalah keterlambatan bayar SPP. Alhamdulillah yah, sesuatuh. hahahaha *tertawa lega.

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on November 13, 2012, in Coffee Time. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: