Bahasa Persatuan, Kini Tak Semanis Dulu !

Kecil Di Rumah Sendiri | RG: Batra

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Itulah sumpah ketiga, yang didengungkan para pemuda Indonesia, tanggal 28 Oktober tahun 1928, yang sekarang selalu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda Indonesia. Itulah janji para Pemuda Indonesia, untuk memperkuat semangat persatuan dalam sanubari. Sungguh indah memang kala dikenang.

Sejak tahun 1972, ejaan Bahasa Indonesia disempurnakan menggantikan ejaan sebelumnya (Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi), dan juga revisi tahun 1987, dan tahun 2009. Dan sepertinya sosialisasi pemerintah sangat minim, sedikit masyarakat tahu kalau bahasa persatuannya kini telah banyak di ubah. Akhirnya nasib bahasa persatuan kini sangat memprihatinkan, dari penelitian Krisanjaya, M. Hum, ahli lingustik dari Universitas Negeri Jakarta, orang Indonesia yang mampu berbahasa Indonesia secara benar hanya 16,77 persen. Sangat sedikit sekali, tak heran apabila kita (bangsa Indonesia) terpecah belah, banyak perselisihan–orang bahasa persatuannya saja yang mengerti sedikit!

 Selebihnya dalam perbincangan sehari-hari orang Indonesia, lebih menyukai menggunakan Bahasa Daerahnya masing-masing, tak terkecuali di Jogja. Ataupun yang menggunakan Bahasa Indonesia, tapi tidak sesuai dengan EYD. Itu sangat wajar dikarenakan, orang lain masih enak dengan menggunakan bahasanya sendiri, Bahasa Indonesia hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang tidak mengerti dengan bahasa daerahnya, akhirnya bahasa Indonesia hanya sebagai bahasa formalitas untuk menyatukan beberapa bahasa daerah di Indonesia. Jadi bahasa Indonesia hanya berfungsi sebagai penghubung, tidak menjadi bahasa yang seharusnya menjadi bahasa yang menyatukan ke Bhinekaan di Indonesia.

Disaat era Globalisasi saat ini, dimana berbagai macam bahasa dari negara-negara lain bisa diakses dengan mudahnya, apalagi bahasa International seperti halnya Bahasa Inggris. Herannya lagi, dari minimnya minat orang Indonesia terhadap bahasa Indonesia, banyaklah terjadi kontaminasi dari bahasa Inggris, Daerah, sampai bahasa Gaul (bahasa karangan anak-anak muda) terhadap ke-shahihan Bahasa Indonesia. Apalagi sekarang marak Sekolah (TK, SD, SMP, dan SMA) mulai mengejar yang namanya SBI (Sekolah Berbasis International) yang mewajibkan murid menggunakan bahasa asing. Tak mau ketinggalan, Universitas-universitas Negeri dan Swasta saling menyelip untuk merebutkan titel World Class University dan tidak saling menyelip untuk hal prestasi pendidikan. Miris.

Penyakit mencampur adukan ini, tak menjadi perhatian yang berarti bagi Pemerintahan Indonesia, malah terlihat seperti jor-joran, bahkan diberbagai kegiatan yang bertaraf Nasional sampai Internasional sekalipun. Pemerintah kita sering menggunakan bahasa asing untuk menjadi judul, tema, dan lain sebagainya, bukannya mengenalkan bahasa Indonesia kepada Indonesia dan Dunia, malah menggunakan bahasa asing, bagaimana masyarakat tidak mengikutinya. Benarkan Indonesia sudah merdeka, sedangkan bahasa asing masih menjadi santapan lezat kita semua. Banyak kalangan yang mengatakan kalau penggunakan bahasa asing (bahasa Inggris-red), tak lain untuk menarik para wisatawan asing untuk datang ke Indonesia, dan menjadikan Indonesia menjadi tujuan para wisatawan luar, walaupun alasan ini benar alangkah baiknya menggunakan bahasa Indonesia beserta bahasa asing, jadi bahasa asing hanya sebagai bahasa pendamping, bukan menjadi bahasa utama.!

Alangkah indahnya Bahasa Indonesia menjadi Tuan di rumahnya sendiri, menjadi sesuatu yang membanggakan bagi kita semua. Dan kita sebagai orang Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia, untuk mencapai cita-cita bangsa ini. Sehingga perjuangan para pemuda dalam Sumpah Pemuda, tidak hanya menjadi romantisme masa lalu–dikenang tanpa diamalkan. Jangan sampai karena sekarang Bangsa Indonesia sudah bersatu, Bahasa Persatuanpun terabaikan.

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Oktober 29, 2012, in Artikel, Berita, Jurnalistik, Renungan, Writing and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: