Belajar Menghadapi Cobaan Dari Allah SWT Menggunakan Rumus Hukum Ohm

Lama tidak menulis diblog, karena disibukkan oleh kegiatan Kuliah yang padat senin sampai sabtu. huft, tapi cukup menyenangkan karena waktuku terbuang tidak sia-sia. Sungguh pencuri yang paling seram adalah, yang mencuri waktu berharga kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.🙂

Untuk kali ini, saya akan menulis sebuah cara untuk menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita… yaitu menggunakan hukum Ohm. Kenapa harus hukum Ohm, apa sih itu hukum Ohm ?

Ini merupakan salah satu hukum eksperimental yang dilakukan oleh ahli fisika yang bernama “Goerge Ohm”, pada kurang lebih 200 tahun yang lalu. yang berbunyi V = I x R. Dimana V adalah tegangan, I adalah Arus, dan R adalah Resistan/Tahanan/Hambatan. Dimana R adalah konstanta yang merupakan tahanan dari batang tembaga, Konstanta ini memberikan hubungan yang linear antara tegangan dan arus. Dari rumus diatas, kita mendapatkan kesimpulan bahwa, semakin besar Arusnya dan juga semakin besarnya Tahanan/Hambatan, maka akan semakin besar pula nilai V (tegangan) yang kita dapat.

Dari keterangan diatas kita bisa mengartikan kedalam kehidupan kita, dimana Allah swt selalu memberikan suatu cobaan/ujian (Tahanan/Hambatan-‘R’) kepada makhluknya, dan cobaan itu  dengan berbagai macam cobaan. Mulai dari yang enak, nggak enak, sehat, sakit, kaya, miskin, bahagia, sedih, dan lain sebagainya.

Jadi bagi anda yang diberi oleh Allah swt suatu ujian/cobaan yang berat, ingat firman Allah swt :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh: 286)

Dan juga belajarlah dari hukum Ohm diatas. Semakin besar, Cobaan/Ujian (R) yang diberikan oleh-Nya, semakin besar pulai nilai (V) anda dihadapan Allah Ta’ala. Semakin besar arus (I) yang engkau berikan untuk menghadapi cobaan/ujian (R) yang diberikan oleh-Nya, maka semakin besar pula nilai (V) anda dihadapan Allah SWT. Jadi kalau kita mendapati cobaan/ujian yang sangat berat dan kita hadapi dengan nilai yang besar pula, maka akan sangat besar nilainya dihadapat Allah SWT. Tapi jangan sampai cobaan/ujian yang diberikan oleh-Nya, tidak kita hadapi (memberikan arus I) maka nilainya akan jadi NOL besar dihadapan-Nya. Maka beruntunglah orang-orang yang diberikan oleh Allah SWT cobaan ataupun Ujian yang sangat besar, dan diharapi dengan semangat yang besar pula, Sesungguhnya anda dihadapan Allah SWT sangat besar nilainya. dan simaklah nasehat dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW :

Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memberikan cobaan pada hamba itu

Wallahu A’lam

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on April 15, 2012, in Artikel, Islam, Motivasi, Renungan, Tips dan Trik, Writing and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Terus bagaimana harusnya ,jika I .itu kecil tidak imbang antara Adanya V dan R .gan? Jawab di e mail ku aj .ku tunggu

  2. saya kurang paham dengan pertanyaannya. I, R, dan V adalah suatu kesatuan yang saling membutuhkan. klw I = 0 maka semuanya juga 0. kalau R = 0 maka semuanya jadi 0.
    dengan V = sebagai nilai kita dimata Allah SWT, R sebagai cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dan I sebagai apa yang kita berikan untuk menghadapi R tersebut. ini tidak ada hubungannya dengan rumus fisika, hanya sebagai permisalan untuk bisa lebih menjelaskan makna dari percobaan dari Allah SWT.🙂

  3. ikutan nanya nih ?bgemna klo kita benr tp ttp di mata orng kya kita sllu di salhkn ” dan apkah kita hrs diam trus atau gmna? mohon solusi’nya ya???? tks

  4. Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, dan Allah SWT telah memberikan kebenaran itu melalui Al-Qur’an dan Sunnah melalui utusan-Nya Nabi Muhammad SAW. Jadi ukuran benar dan salah itu ada di Al-Qur’an dan As-Sunah.

    Kalau menanggapi apa yang orang lain katakan, kita mesti mendengarkan dan dijadikan bahan introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seperti yang saya katakan tadi, bahwa kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT, Maka lakukanlah apa yang kamu lakukan dengan Qur’an dan Sunah sebagai pegangan.🙂

    Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: