Perkembangan Ekonomi Islam untuk Indonesia (1)

Sebenarnya sudah lama, saya mengikuti sebuah seminar, tentang Ekonomi Islam. Tapi baru saya sampaikan disini. Saya akan mengulas sedikit, isi dari buletin yang saya dapat, yang berjudul “Indonesia Dikancah Ekonomi Global Serta Peran Ekonomi Islam”. Disini, saya akan memberikan, isi dari buletin tersebut, tapi dengan beberapa pandangan dari saya. Semoga, postingan kali ini, bisa berguna bagi teman-teman yang membacanya.

Disini saya akan membagi menjadi beberapa postingan, karna saya tidak sempat untuk mengetikan semuanya. hehehe

Menurut berita, yang sering saya dengar, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang paling berpotensi untuk berkembang pada tahun 2025 mendatang. Itu bisa dilihat dari melimpahnya SDA dan SDM yang ada di Indonesia saat ini. Itu merupakan salah satu faktor penting, apalagi Indonesia merupakan negara muslim yang paling besar.

Ya, kita semua tahu saat ini Eropa mengalami krisi ekonomi yang mengakibatkan dampak berantai sehingga membawa seluruh hampir negara-negara di Eropa terkena dampaknya. Krisis yang berawal dari Yunani ini kemudian dengan cepat merambat ke negara-negara disekitarnya seperti Italia, Portugal, Spanyol, Irlandia (Bank Indonesia, Direktorat Perbankan Syariah 2011).

untuk lebih mengetahui tentang krisis ekonomi global, anda bisa mengunjungi ke sini.

Tapi untungnya buat kita, karna tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia pada tahun ini mampu melindungi indonesia dari krisis, seperti krisis ekonomi global 2008. dari hal tersebut menunjukan bahwwa sebenarnya minat dan geliat perekonomian di Indonesia sangat baik sekali.

Pada buletin itu juga menjelaskan, pada dekade ini, orde ekonomi global telah bergerak menuju multipolaritas yang ditandai dengan munculnya kekuatan baru seperti BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China) serta negara-negara Emerging Markets (Word Bank, 2011), menggantikan para pemain lama yang sudah semakin tua dan usang kepemimpinannya terhadap ekonomi dunia seperti Amerika dan Eropa. Kondisi perekonomian global yang baru ini kemudian menyuguhkan suatu tantangan dan semangat yang baru pula. Penguasaan produk oleh China adalah salah satu contoh nyata bagaiman dunia mengadopsi paradigma baru tentang perekonomian global.

Mungkin kalian bertanya-tanya apa itu multipolaritas Global, di artikel koran tempo, menjelaskan multipolarisme global, dan juga dampak ke indonesia. yang dimuat pada kamis, 23 Juni 2011 :

Belum lama ini, Bank Dunia mengeluarkan laporan bertajuk “Global Development Horizons 2011: Multipolarity The New Global Economy”. Laporan tersebut menjelaskan bahwa kini ekonomi global telah memasuki era baru dengan ditandai bergesernya blok pertumbuhan ekonomi global. Bila selama ini negara-negara maju menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi global, kini posisi tersebut mulai bergeser ke negara-negara berkembang (emerging market). Seiring dengan pergeseran tersebut, peran perusahaan multinasional dari emerging market pun kini semakin diperhitungkan sebagai pendorong arus investasi global. Sistem moneter internasional pun kini beranjak dari sistem international single currencyke international multi currency.

Menuju Multipolaritas

Apa yang dijelaskan Bank Dunia memang sudah terlihat gejalanya. Gejala terjadinya multipolaritas tersebut semakin jelas, ketika kini Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa sedang mengalami krisis. Mari kita lihat beberapa fenomena multipolaritas berikut. Pertama, bila pada era 1994-1998, negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi (di atas 6%) banyak dihuni negara-negara maju , pada era 2004-2008 telah banyak negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kini, distribusi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah semakin merata.

Kedua, kini peran perusahaan multinasional emerging market dalam percaturan global semakin besar. Perusahaan multinasional emerging market, tidak hanya besar karena kiprahnya di emerging market, tetapi juga telah menjadi pemain penting di negara-negara maju. Kini, banyak perusahaan multinasional China yang berkibar di AS dan Eropa. Kini, AS bahkan khawatir dengan eksistensi perusahaan multinasional China, karena defisit neraca perdagangannya dengan China yang membesar.

Semakin meningkatnya peran perusahaan multinasional emerging market juga ditunjukkan tingginya perjanjian merger dan akuisisi (M&A) yang mereka lakukan. Laporan Bank Dunia menunjukkan, bila pada 1997, transaksi M&A antar negara emerging market baru mencapai US$27 miliar, pada 2010 telah mencapai US$250 milyar. Bila pada 2000, pangsa utang (bonds, loans) perusahaan asal emerging marketbaru sekitar 2,5% dengan nilai sekitar US$123 milyar, pada 2010 pangsanya telah mencapai sekitar 7% dengan nilai sekitar US$461 milyar.

Reputasi perusahaan multinasional asal emerging market juga semakin baik. Hal ini, terlihat dari semakin menurunnya biaya utang perusahaan multinasional emerging market yang harus dikeluarkan ketika menerbitkan bonds. Bila pada 2009, kupon yang dibayarkan atas obligasi yang dikeluarkan perusahaan multinasional emerging market sekitar 345 basis poin di atas benchmarks (biasanya US Treasury Bond) untuk perusahaan dengan peringkat Investment Grade dan sekitar 650 basis poin untuk perusahaan dengan peringkat Non-Investment Grade, kini per April 2011 turun dratis menjadi sekitar 224 basis poin (untuk Investment Grade) dan sekitar 550 basis poin (untuk Non-Investment Grade).

Ketiga, sistem moneter internasional, kini juga sudah semakin mengarah terbentuknya sistem multi mata uang. Kini, kita menyaksikan Dollar AS tidak lagi mendominasi sebagai mata uang utama di dunia, seiring dengan hadirnya Euro dan Renminbi. Sebagai ilustrasi, bila pada 2009, penggunaan Renminbi kurang dari 0,5%, pada 2010 sudah mencapai 5,1% dalam transaksi perdagangan global. Dalam transaksi di pasar keuangan, penggunaan Renminbi di luar China juga semakin meningkat. Pada kuartal II 2011, penggunaan Renminbi dalam penerbitan bond di pasar global telah mencapai sekitar US$40 milyar.

Terlihat jelas bahwa multipolaritas global kini semakin nyata, seiring semakin menguatnya peranemerging market. Meski begitu, perkembangan emerging market ini sejatinya masih terkendala, karena beberapa hal. Pertamaemerging market belum memiliki mata uang yang dapat digunakan secara internasional untuk akumulasi cadangan (reserves), invoicing, atau jangkar pertukaran mata uang. Kedua,emerging market masih terekspos kesenjangan mata uang, baik di antara negara emerging marketmaupun dengan negara-negara maju. Diperkirakan, bila kendala-kendala ini dapat diatasi, misalnya dengan membentuk satu mata uang emerging market yang digunakan secara internasional (seperti Euro), pertumbuhan ekonomi emerging market dapat lebih cepat lagi.

Posisi Indonesia

Lalu, dimana posisi Indonesia dalam arus multipolaritas global tersebut? Apakah Indonesia telah dan akan menjadi bagian penting dalam pembentukan multipolratitas global? Ataukah, kini sedang menunggu dan melihat (wait and see) seperti apa perubahan geopolitik dan ekonomi global yang akan terjadi dan kemudian ikut pada arus atau blok yang menang?

Pada 2011 ini, Indonesia telah masuk kelas sebagai negara berpendapatan menengah (PDB per kapita US$3.000). Posisi Indonesia dalam tren multipolaritas global juga didukung stabilitas politik domestik yang baik, pengelolaan ekonomi makro dan fiskal yang relatif baik, memiliki potensi ekonomi berupa sumber daya alam melimpah dan kekuatan demografi yang mendukung, serta membaiknya profil Indonesia di dunia internasional, yang ditunjukkan dengan keikutsertaannya dalam G-20.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga konsisten (sekitar 6% per tahun), terutama didukung oleh semakin membaiknya kegiatan investasi. Pada 2025, Indonesia diperkirakan akan memiliki pangsa terhadap pertumbuhan PDB global sekitar 2,81%. China diperkirakan akan menjadi negara dengan pangsa pertumbuhan PDB terbesar di dunia, sekitar 37%. Indonesia juga berpeluang menjadi salah satu emerging market terbesar di dunia. Terlebih, Indonesia memiliki keuntungan demografi, karena struktur usia penduduk Indonesia pada 2025 nanti akan dihuni oleh kelompok penduduk berusia menengah (usia produktif). Diperkirakan, bila negara seperti Brasil, Rusia, India, Indonesia, China, dan Korea Selatan bergabung (BRIICK’s) dapat menyumbang pangsa pertumbuhan PDB global sekitar 50%.

Berdasarkan keunggulan di atas, Indonesia sejatinya memiliki posisi strategis dalam menentukan bentuk multipolaritas global ke depan. Sebagai contoh, sekalipun China saat ini disebut sebagai leader bagiemerging market, namun China memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap Indonesia dalam hal sumber-sumber energi dan pangan. Pada 2025, China diperkirakan akan memiliki posisi demografi yang tidak menguntungkan, karena penduduk usia produktifnya akan semakin mengecil. Pertumbuhan ekonomi China yang saat ini tinggi (rata-rata 9%), sesungguhnya karena China sedang menikmati demographic dividend, seiring dengan kelompok masyarakat menengahnya yang saat ini jumlahnya besar.

Oleh karenanya, sejatinya Indonesia berpotensi menjadi bagian penting untuk ikut menata dan menentukan dalam arus multipolaritas ekonomi global tersebut. Dengan kata lain, Indonesia semestinya memiliki positioning yang baik dalam pembentukan multipolaritas global. Pertanyaannya, apakah Indonesia cukup percaya diri ambil peran itu mulai dari sekarang? Sebuah keputusan yang harus dirumuskan menjadi konsensus nasional.

InsyaAllah bersambung.

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Januari 13, 2012, in Artikel, Ekonomi, Islam, Writing and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ka, af1 nih,, jdul di materi ini sya minta ya,, soalnya jdulnya kren,, jdul ini bkalan sya pke untuk makalah yang akan sya buat,,

  2. Based on this rough and simple computation, you will find all the information in your credit
    report is pulled out by a lender, your credit score
    negatively. The lenders will check this first in order to keep your automobile and continue to
    pay only loan $1, 000 instead of the regular amortization of $1, 000 will not.
    That element is purpose, and when the purpose is to ensure that
    you are loan able to solve their financial problems by accessing President’s Making
    Home Affordable MAH plan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: