Malam Pertamaku Tinggal Di Jojga

Malam pertama disini bukan, malam pertamanya orang-orang yang baru menikah. Tapi malam pertama  tinggal di jogja. Pertama kalinya saya merantau untuk kuliah, saya masih ingat itu tanggal 29 juli 2010. Dengan tinggal dikos KM 15 Jalan Kaliurang, Sleman. Sangat jauh dari kota jogja, saya menghubungi teman saya untuk menjemput saya dikosan, karena pada saat itu saya sendirian dan tak membawa motor, nekad memang. Atau lebih tepatnya ingin cepat-cepat ke kota jogja, bosan dengan suasana kota Bumiayu tempatku tinggal.

Saat itu, kami (saya dan sobron) pergi ke kontrakan teman saya–atik–yang dekat dengan Malioboro. Tepatnya di Jln Tukangan, Lempuyangan. Bersantai sejenak, menikmati suasana baru, udara baru, dan juga wajah-wajah baru yang lebih asing, walaupun sama-sama orang Indonesia.

Inilah kota pelajar, kota budaya, kota yang imut namun ngangenin, begitu kata orang-orang yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun sebenarnya, saya bingung dengan penulisan dan pelafalan kota jogja, haruskah dengan kata J atau Y, dan bagi saya sama saja, kalau para pribumi (asli jogja-red) lebih suka menggunakan huruf J daripada Y. Tidak ada yang bisa memastikan dan menetapkan, biarlah seperti ini, malah menambah unik kota jogja atau yogya ini. Saya pribadi lebih suka menggunakan huruf J, tapi tak apalah, jangan terlalu dipikirkan.

Waktu sudah menunjuk ke angka 9, kata atik jogja lebih enak dikunjungi pada saat malam. Perjalanan dimulai, kita bergegas pergi ke Malioboro, tepatnya diujung malioboro gedung BNI tua, atau juga sering disebut Nol Kilometer jogja, katanya asal kata Nol Kilometer merupakan titik tengah dari kota jogja. Walaupun banyak yang kurang setuju, dan menjadi perdebatan mana yang benar (letak Nol Kilometer). Lagi-lagi disidangkan kebingungan, hahaha

Menikmati pemandangan para pengendara sepeda, motor dan mobil di Nol KM, suasana ramai. Banyak yang berfoto-foto, menikmati minuman ronde, kopi, jagung. Walaupun sangat disayangkan dipojok-pojok, tercium bau amis, bekas kencing manusia yang–entah kenapa– ingin menjadi anjing, kencing sembarangan.

Setelah puas menikmati Nol Kilometer jogja, kamipun bergegas pergi ke Alun-alun Lor (Utara), disini sepi tak seperti di Alun-alun kidul (Selatan) yang sangat ramai. Menikmati kesunyian, sambil bermain video cam di Macbook, sambil membuat video dubbing, membuat suasana menjadi menyenangkan.

Jogja, kota yang indah dan cantik, walaupun masih banyak yang harus dibenahi. Tapi tetap, Saya Cinta Jogja, kota yang menyenangkan. Disinilah kumulai kenangan bangku kuliah. Waktu berjalan cepat memang, semoga saya tidak membuang sia-sia waktu yang singkat ini…

dibawah foto-foto yang saya ambil di saat malam pertama dijogja:

About nafi

Panggil saja Piul. :) Lahir 5 Juni 1992, di kota Tegal dari rahim seorang Ibu yang sangat cantik seperti bidadari, yang selalu dilindungi oleh seorang ayah yang hebat layaknya Malaikat dalam hidupku. Nafiul Mualimin sebagai nama dan doa yang mereka berikan padaku... Kata an-Nafi (asmaul husna - yang memberi manfaat) dan Mualim (orang mukmin yang berilmu). Menjadi orang yang bermanfaat dalam ilmu merupakan tujuan saya hidup didunia ini !

Posted on Juli 29, 2010, in Coffee Time, Photography and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: