
Ketika kita tidak tahu, lalu berubah menjadi tahu. itu adalah perubahan yang sangat besar. Itu akan menimbulkan overakting, yang tentu, sesuatu yang berlebihan, tidak baik untuk kita semua. semua itu berlaku juga untuk ketika, kita mendapatkan, hidayah, mendapatkan cahaya, tentang betapa gelapnya dunia yang kita singgahi sekarang ini. Rasa semangat, untuk berdakwah, untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar, apalagi sampai menuju Jihad, itu akan berlebihan apabila tidak ditanggapi dengan kepala dingin. Maka dari itu, janganlah kita terlalu overakting, apalagi mudah mengkafirkan orang lain. Alangkah baiknya kalau kita diam, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.“, hadits diriwayatkan oleh Bukhari.
Tapi bukan berarti diam, diam untuk selama-lamanya, diam untuk tak mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar, tapi diam disini agar tidak menimbulkan fitnah. Adapun diam adalah emas, menurut K.H. Abdullah Gymnastiar. Tentu saja, dengan diam yang aktif, kita bisa meminimalisir percepahan, pertengkaran, dan juga fitnah yang tentu kita tahu ‘lebih kejam dari pada pembunuhan’. Mari kita lihat, pendapat K.H. Abdullah Gymnastiar tentang ‘Diam Itu Emas’ View full article »